Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 02 Juni 2020

Bocah Meninggal karena Meningitis, Sang Ibu: Bangun Tidur Matanya Abu-Abu

Sharon ingin para orang tua menyadari gejala meningitis.

Vika Widiastuti | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
cloud_download Baca offline
Maisie Dicks - (Facebook/Sharon Stokes)
Maisie Dicks - (Facebook/Sharon Stokes)

Himedik.com - Kisah sedih dibagikan seorang ibu yang kehilangan putrinya karena meningitis. Sharon Stokes (38) mengatakan, putrinya, Maisie Dicks (13), mengembuskan napas terakhir tepat saat tahun baru, tiga hari setelah mengatakan pada sang ibu bahwa ia merasa tidak enak badan.

Sharon menceritakan, pagi hari setelah mengeluhkan tidak merasa sehat, Maisie bangun dengan 'mata abu-abu dan ruam'. Maisie pun dilarikan ke rumah sakit.

Ia pun berada dalam kondisi induced coma (dibuat koma untuk mencegah kerusakan otak yang lebih parah, -red), tetapi sayangnya sudah terlambat, dia meninggal hanya dua hari kemudian.

Kini Sharon ingin para orang tua menyadari gejala meningitis, sehingga mereka tidak perlu mengalami patah hati yang sepertinya.

Pada 30 Desember, Sharon memanggil ambulans setelah Maisie terbangun dengan ruam dan 'mata abu-abu'. "Lengannya menjadi hitam dalam waktu satu jam. Itu sangat cepat, itu sulit dipercaya," ungkap Sharon, dikutip dari Daily Mail, Minggu (13/1/2019).

Sharon Stokes (tengah) dan Maisie Dicks (kanan) - (Facebook/Sharon Stokes)
Sharon Stokes (tengah) dan Maisie Dicks (kanan) - (Facebook/Sharon Stokes)

Maisie juga telah mengalami septikemia (keracunan darah, -red) saat itu. Sharon menuturkan, "Dia menderita meningitis, tetapi pada saat itu septikemia. Ketika saya baru tahu, sudah terlambat. Saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi."

"Saya benar-benar tidak percaya akan menjadi seperti ini. Saya tahu dia sangat sakit, tetapi siapa yang menyangka akan sampai meninggal," imbuhnya.

Mengutip Daily Mail, meningitis adalah radang selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Siapa saja dapat terkena penyakit ini, tetapi yang paling berisiko adalah mereka yang berusia di bawah lima tahun, 15 hingga 24 tahun, dan lebih dari 45 tahun.

Perokok pasif atau orang yang sistem kekebalan tubuhnya melemah, seperti pasien yang menjalani kemoterapi, juga lebih berisiko. Bentuk meningitis yang paling umum adalah bakteri dan virus.

Gejala meningitis meliputi demam, muntah, kantuk, kebingungan, nyeri otot parah, sakit kepala parah, leher kaku, dan tidak suka cahaya terang. Penderita meningitis juga bisa mengalami kejang, kulit pucat atau bernoda, dan bintik-bintik atau ruam.

Terkait

Terkini