Selasa, 19 November 2019

Kulit Bayi Kerap Memar Saat Belajar Merangkak? Waspada Gejala Hemofilia

Dr Bambang mengatakan bahwa pasien hemofilia mudah rapuh karena gesekan minimal pun bisa memicu pendarahan.

Vika Widiastuti
Ilustrasi bayi merangkak (Unplash/Picsea)
Ilustrasi bayi merangkak (Unplash/Picsea)

Himedik.com - Penyakit hemofilia atau gangguan pendarahan yang berupa darah sukar membeku bisa ditangani segera jika dideteksi dari awal. 

Dijelaskan oleh Ketua Unit Kerja Hematologi dan Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Bambang Sudarmanto, SpAK Mars, salah satu gejala hemofilia adalah kulit anak mudah memar meski hanya sedang belajar merangkak.

"Jadi memang kesadaran akan hemofilia ini harus dideteksi sejak bayi. Misal persalinan normal tapi kepala bayi benjol itu harus diwaspadai. Atau ketika memotong tali pusar tapi berdarahnya lama harus dicurigai hemofilia," ujar dr Bambang dalam temu media di Jakarta, Kamis (4/4/2019) diberitakan Suara.com.

Selain itu pada fase perkembangan lainnya, jika anak mulai belajar duduk, merangkak dan bagian bokong serta sendi lututnya bengkak juga harus dicurigai mengarah pada hemofilia. Pasalnya hal itu menunjukkan adanya pendarahan di bagian dalam kulit bayi.

"Macam-macam problemnya, misal cuma terantuk tapi kulit bayi memar. Itu tanda-tanda awal. Ini kewaspadaan yang harus disampaikan ke keluarga agar menyadari bahwa ada pasien hemofilia," ujarnya.

Dr Bambang mengatakan bahwa pasien hemofilia mudah rapuh karena gesekan minimal pun bisa memicu pendarahan. Umumnya hal ini timbul di bagian persendian dan otot.

Bahkan pada pasien hemofilia, bermain layangan bisa memicu ruas jari berdarah karena bergesekan dengan benang.

"Penyandang hemofilia yang berat sangat mudah mengalami pendarahan. Tidak dicubit, dipukul tapi berdarah. Kebentur sedikit mengalami pendarahan. Bisa mengalami cacat seumur hidup, bisa memengaruhi kualitas hidup kalau tidak mendapat pengobatan yang tepat," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof dr. Djajadiman Gatot, SpA selaku Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) mengatakan, pada zaman dahulu banyak mitos yang berkembang seputar hemofilia.

Ada yang mengatakan bahwa memar disebabkan karena digigit kelelawar hingga mitos bahwa hemofilia adalah penyakit kutukan.

"Sehingga malu diperiksakan ke dokter. Padahal kalau tidak diobati akan terjadi kerusakan di sendi atau otot pasien yang pada gilirannya menyebabkan kecacatan seumur hidup," tandasnya. (Suara.com/ Firsta Nodia)

Terkait

Terkini