Kamis, 21 November 2019

Kata Psikolog soal Hukuman untuk Pelaku Penganiayaan Siswi SMP di Pontianak

Lantas apa sih hukuman yang sesuai dengan anak-anak seperti ini menurut psikolog?

Vika Widiastuti
Justice for Audrey [Suara.com/Ema Rohimah]
Justice for Audrey [Suara.com/Ema Rohimah]

Himedik.com - Beberapa hari belakangan, kasus penganiayaan yang melibatkan siswi SMP di Pontianak mendapat sorotan dari berbagai pihak. Siswi SMP berinisial AU tersebut dikeroyok sejumlah siswa SMA

Tak sekali dua kali kasus bullying dan penganiayaan kerap muncul dan terjadi pada anak-anak dan remaja. Banyak masyarakat geram dengan para pelaku penganiayaan AU.

Tak hanya di dunia nyata, netizen di dunia maya pun ikut menghujat, mengutuk dan berharap para pelaku mendapat hukuman yang seberat-beratnya.

KPAI sendiri mengeluarkan tiga sikap dalam menindaklanjuti kasus penganiayaan AU, salah satunya KPAI mengimbau agar kepolisian menggunakan UU Sistem Peradilan Pidana Anak No 11 Tahun 2012.

Para psikolog pun banyak yang angkat bicara dan menyayangkan atas apa yang menimpa korban bully dan penganiayaan AU.

Lantas apa sih hukuman yang sesuai dengan anak-anak seperti ini menurut psikolog?

Psikolog Erna Marina dalam kesempatan talkshow psikologi [Dok Pribadi]
Psikolog Erna Marina dalam kesempatan talkshow psikologi [Dok Pribadi]

Psikolog Anak dan Remaja, Erna Marina Kusuma M.Psi., C.Ft, membeberkan bahwasanya akan banyak hal buruk bisa menimpa para pelaku dari sisi psikis

"Sanksi sosial seringkali efektif untuk membuat jera namun juga mempunyai dampak buruk. Berapa banyak penjahat yang mendapat sanksi sosial ketika mau bertobat dari kesalahannya akhirnya kembali menjadi penjahat lagi karena ditolak di mana-mana. Ini bisa menimpa anak-anak kita lho yang menjadi pelaku," terang Erna saat dihubungi Suara.com, Kamis (11/4/2019).

Setiap orang yang melakukan pem-bully-an atau kesalahan memang lebih baik dihukum agar ada efek jera.

"Hukuman terbaik adalah hukuman yang bisa membuat pelaku berubah menjadi baik. Jika seorang anak melakukan hal yang jahat terhadap temannya, pertama mereka harus dihukum dengan melakukan kebaikan untuk teman yang di jahatinya," tegas Erna. 

Dengan demikian anak akan belajar melakukan kebaikan sekaligus bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan.

"Saat mereka bertemu, korban juga bisa merasakan permintaan maaf dan perubahan sikap dari pelaku. Sehingga diharapkan hubungan yang rusak bisa pulih perlahan-lahan," pungkas Erna.

(Suara.com/Ade Indra Kusuma)

Terkait

Terkini