Selasa, 12 November 2019

Anak Kerap Mengompol Bisa Jadi Gejala Diabetes Tipe 1, Kok Bisa?

Jika anak masih mengompol setelah berhenti lama, ada kemungkinan dia mengidap diabetes tipe 1

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Ilustrasi diabetes - (Pixabay/stevepb)
Ilustrasi diabetes - (Pixabay/stevepb)

Himedik.com - Mengompol adalah hal yang biasa bagi anak-anak di bawah usia 7 tahun. Tapi pada beberapa hal mengompol bisa mengindikasikan sang anak menderita diabetes tipe 1.

Ini adalah kondisi kekebalan otomatis yang menyebabkan kadar glukosa (gula) dalam darah Anda menjadi terlalu tinggi. Itu terjadi ketika tubuh Anda berhenti memproduksi cukup hormon bernama insulin yang mengendalikan gula darah Anda.

Melansir eric.org.uk, gejalanya bisa termasuk rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil, mengompol, penurunan berat badan, kelaparan, penglihatan kabur, sakit perut, muntah, sariawan dan kelelahan.

Jika sang anak mengalami gejala ini, ada baiknya orangtua atau wali membawa sang anak ke dokter.

Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sejak September 2009 hingga September 2018 terdapat 1213 kasus diabetes tipe 1 pada anak usia 0 hingga 18 tahun.

Ilustrasi anak tidur siang (pixabay)
Ilustrasi anak tidur (pixabay)

Sayangnya, seringkali dokter dan keluarga tidak sadar dengan tanda-tanda peringatan dini.

Identifikasi dini sangat penting untuk memastikan bahwa anak-anak dan orang muda yang mengembangkannya tidak menjadi sakit dengan Diabetic Ketoacidosis (DKA).

Di sinilah peningkatan kadar glukosa darah dapat menyebabkan tahap awal kerusakan organ jika tidak ditangani dengan cepat dan dikendalikan.

Tingkat glukosa darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian.

Sebenarnya, penyebab dari diabetes tipe 1 ini tidak diketahui secara pasti. Namun, diabetes dianggap sebagai penyakit autoimun.

Sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel beta di pankreas . Ini adalah sel yang membuat insulin. Para ilmuwan tidak sepenuhnya memahami mengapa ini terjadi.

Elemen genetik dan lingkungan, seperti virus, dapat berperan.

Terkait

Terkini