Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 07 Juli 2020

Edukasi Seksual Harus Diajarkan Sejak Dini, Bisa Mencegah Pelecehan

Edukasi seksual sangat penting bagi perkembangan anak, itulah sebabnya pakar menyarankan untuk mengajarkannya sejak dini.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi edukasi seksual - (Shutterstock)
Ilustrasi edukasi seksual - (Shutterstock)

Himedik.com - Beberapa pakar merekomendasikan untuk mengajarkan edukasi seksual sejak dini, sebab, ini adalah hal yang sangat penting bagi perkembangan mereka.

"Manusia adalah makhluk sosial sejak mereka dilahirkan," kata kepala eksekutif di Rutgers University, Dan Rice.

Mungkin Anda merasa sangsi saat membacanya, namun, Rice memiliki alasan untuk itu.

Seiring perkembangan, anak-anak sudah mencoba untuk memproses dunia mereka dan tubuh mereka adalah bagian penting dari hal itu.

Bukan berarti hanya mengajarkan tentang bagaimana tubuh mereka berkembang, tetapi juga mengajarkan tentang batasan pada tubuh mereka dan siapa yang bisa atau tidak bisa menyentuhnya.

"Anak-anak berusaha memahami bagian tubuh mereka dan perasaan mereka. Itu semua terasa membingungkan," tutur Nora Gelperin, ketua Sexuality Education for Advocates for Youth.

Edukasi Seksual Harus Diajarkan Sejak Dini, Bisa Mencegah Pelecehan - 1
Ilustrasi organ reproduksi perempuan (Shutterstock)

Berikut beberapa cara mengajarkan edukasi seksual kepada anak-anak, dilansir dari Insider.

1. Penyebutan anatomi tubuh secara gamblang

Beberapa orangtua akan menggunakan kata imut untuk menyebut organ reproduksi. Namun, ini membuat mereka merasa istilah yang sebenarnya tidak boleh digunakan dan mereka harus malu atas bagian tubuh tersebut.

"Anda menyebut hidung dengan hidung dan siku dengan siku. Jadi, ketika Anda berbicara tentang vulva atau penis, Anda juga harus menyebutnya demikian," jelas Rice.

Sementara itu, Gelperin merekomendasikan untuk memanfaatkan waktu mandi atau mengganti popok sebagai kesempatan untuk berlatih memberi nama bagian tubuh dengan si kecil.

Dengan begitu, jelasnya, ketika mereka terus tumbuh dan menjadi pandai berbicara, mereka sudah mengetahui kosakata tersebut untuk melakukan percakapan terbuka tentang tubuh mereka.

Mengajari anak untuk menyebut bagian tubuh secara tepat adalah langkah aman, karena 'predator' sering memangsa anak patuh yang kemungkinan tidak tahu kata 'vagina' atau 'penis'.

Menurut Gelperin, anak yang tidak bisa menyebut bagian tubuh pribadi ini secara akurat cenderung dilaporkan atas kasus pelecehan.

"Anda tidak perlu menununjukkan gambaran secara detail. Beri nama saja dan jelaskan bahwa wajar dan tidak apa-apa untuk menanyakan fungsi dari bagian tubuh tersebut," sambungnya.

Mikropenis, kondisi yang membuat Mr P lelaki berukuran mini. (Shutterstock)
Ilustrasi organ reproduksi laki-laki (Shutterstock)

2. Orang yang dapat mereka percaya

Sangat penting bagi anak-anak agar tahu bahwa ada orang dewasa yang dapat mereka percaya untuk berbagi masalah kesehatan reproduksi. Misalnya orangtua, guru, atau siapa pun yang dapat mereka andalkan saat terjadi hal-hal tak diinginkan.

3. Ajarkan kontrol diri

Masa prasekolah adalah waktu tepat bagi orangtua untuk mengajarkan tentang anatomi tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang sederhana.

"Ketika Anda mengajarkan mereka untuk menutup wajah saat bersin dan batuk dengan siku, (artinya) Anda juga mengajarkan cara mencegah penyakit dan membuat mereka sadar untuk tidak menyebarkan penyakit pada orang lain," kata Rice.

Dengan begini, anak-anak akan dengan mudah memahami bahwa mereka tidak harus merangkul siapa pun di dekatnya, entah itu sepupu dekat atau kerabat lainnya.

"Itu adalah cara yang meyakinkan bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa mereka memiliki kontrol atas diri mereka," sambungnya.

Terkait

Terkini