Minggu, 23 Februari 2020

Bayi Meninggal Dunia karena Batuk Rejan, Awas Penyakit Ini Bisa Menular!

Seorang bayi meninggal dunia karena menderita batuk rejan, penyakit menular yang bisa berakibat fatal pada bayi.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi bayi menangis. (Pixabay/StockSnap)
Ilustrasi bayi menangis. (Pixabay/StockSnap)

Himedik.com - Seorang bayi di Minnesota, Amerika Serikat meninggal dunia karena menderita batuk rejan. Kasus meninggalnya seorang bayi akibat batuk rejan ini pertama kalinya terjadi setelah 7 tahun lalu.

Pejabat kesehatan Minnesita lantas mengumumkan kasus ini terkait dengan bayi di negara bagian. Dalam rilis yang dilansir dari Fox News, para pejabat Departemen Kesehatan Minnesota mengatakan bayi itu didiagnosis menderita batuk rejan pada Agustus 2019 dan meninggal November 2019.

Sebelum meninggal dunia, bayi sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama 3 bulan. Kematian bayi akibat batuk rejan ini pun pertama kali terjadi sejak 2013 silam.

"Kami sangat sedih mendengar bahwa anak ini meninggal dunia. Batuk rejan terus menjadi perhatian di Minnesota dan kami akan melakukan segalanya untuk mencegah tragedi seperti ini di masa depan," ujar Kristen Ehresmann, direktur penyakit menular di Departemen Kesehatan Minnesota.

Batuk rejan atau pertusis adala infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular. Biasanya, penyakit ini menyebar melalui batuk atau bersih.

Ilustrasi bayi sakit (Pexels)
Ilustrasi bayi sakit (Pexels)

Orang yang menderita batuk rejan perlu waktu setidaknya 3 minggu sampai gejala itu muncul. Gejala stadium akhir mungkin termasuk batuk yang cepat diikuti oleh suara "teriakan" bernada tinggi, muntah dan kelelahan.

Penyakit ini bisa meyerang siapa pun tanpa memandang usia, tetapi efeknya memang lebih berbahaya pada bayi.

Karena itu, pejabat kesehatana Minnesota memeringatkan ibu hamil untuk melakukan vaksin tetanus, difteri dan aselular atau tdap selama trimester ketiga.

Kemudian tubuh ibu akan menciptakan antibodi untuk diberikan kepada bayinya yang belum lahir. Begitu pula, anak-anak usia 2 bulan juga harus mendapat vaksin difteri, tetanus, aselular dan vaksin tdap saat mereka berusia 11 hingga 12 tahun.

Dalam kasus ini, pejabatt belum mengetahui bayi yang meninggal akibat batuk rejan ini sudah mendapat keseluruhan vaksin atau belum.

Terkait

Terkini