Kamis, 20 Februari 2020

Guru di Kepulauan Riau Sebut Muridnya Lonte, Ketahui Dampak Psikisnya!

Heboh seorang guru di Kepulauan Riau sebut muridnya lonte karena berboncengan dengan laki-laki saat pulang sekolah.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi bully (unsplash)
Ilustrasi bully (unsplash)

Himedik.com - Seorang siswi SMK di Kabupaten Kepulauan Anambas pasrah jika harus putus sekolah setelah dikatai oleh guru agamanya sendiri dengan sebutan "lonte".

Kejadian ini berawal ketika siswi berinisial AR dari SMKN 1 Anambas sedang pulang sekolah menaiki kapal penyeberangan roro bersama teman-teman dan gurunya.

Saat itu AR sedang duduk di atas sepeda motor dan berbocengan dengan teman laki-laki. Guru agamanya, SK langsung meneriaki AR dengan sebutan lonte di depan umum.

"Di atas roro anak saya duduk berboncengan di atas sepeda motor dengan temannya. Motor tersebut punya anak saya, yang bawa teman laki-laki satu sekolah dan dekat tempat tinggal. Saat bercerita tersebut, gurunya yang juga ada di kapal roro tersebut langsung meneriaki AR 'Kamu macam lonte'," tutur RM, orangtua AR Jumat (17/1/2020).

Akibat ucapan gurunya, AR pun menangis sepanjang perjalanan pulang dan enggan masuk sekolah lagi. Karena usaha RM memotivasi anaknya agar tetap sekolah tidak berhasil, ia pun memutuskan datang ke sekolah.

Ilustrasi bullying
Ilustrasi bullying

Sayangnya, kedatangan RM ke sekolah untuk membicarakan soalnya anaknya bersama guru yang bersangkutan tidak menemukan solusi. Begitu pula ketika kasus ini ditengahi oleh konselor Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Anambas, Erda.

Pihak SMKN 1 Anambas, tempat AR mengenyam pendidikan justru akan memutuskan untuk mengeluarkan AR.

Kasus seorang guru menyebut muridnya sendiri dengan kata "lonte" ini pun sempat menjadi perbincangan di media sosial. Hal ini tentunya akan berkaitan dengan psikologis AR, sebagai anak remaja yang disebut "lonte".

Menurut Inhastuti Sugiasih, psikolog anak sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang, kasus guru yang menyebut muridnya "lonte" termasuk tindakan kekerasan verbal.

Apalagi kata-kata tersebut ditujukan pada seorang anak yang masih dalam masa pembentukan jati diri. Selain itu, hal ini juga memicu terjadinya bullying di lingkungan sosial.

"Sebenarnya itu termasuk kekerasan verbal juga ya. Masa remaja itu kan masa pembentukan identitas diri. Jadi tidak baik jika melabel seorang anak dengan sebutan "lonte". Itu juga kan kata-kata yang menyakiti hati," kata Inhastuti Sugiasih,S.Psi, M.Psi ketika dihubungi Suara.com, Senin (20/1/2020).

Tudingan "lonte" juga bisa memberikan dampak psikologis pada AR. Dalam hal ini, Inhastuti berpendapat bahwa anak mungkin saja mengira bahwa dirinya seburuk "lonte" hingga menarik diri dari lingkungan.

"Dampaknya ya anak akan memandang bahwa dirinya buruk karena disebut lonte tadi itu kan. Lalu dia akan menarik diri dari lingkungan sosialnya," jelasnya.

Terkait

Terkini