Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 14 Juli 2020

Skizofrenia dan Psikopat, Adakah Kaitannya?

Hubungan antara skizofrenia dan psikopat yang diduga psikolog dialami oleh gadis ABG, pelaku pembunuhan di Sawah Besar.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Gambar hasil karya pelaku pembunuhan bocah 6 tahun di Sawah Besar [Suara.com/Alfian Winanto]
Gambar hasil karya pelaku pembunuhan bocah 6 tahun di Sawah Besar [Suara.com/Alfian Winanto]

Himedik.com - Kasus pembunuhan bocah 6 tahun oleh ABG berinisial NF (15) begitu menyita perhatian publik. Pelaku pembunuhan di bawah umur itu pun masih dalam proses pemeriksaan kejiwaan

Psikolog Liza M Djapri, mengaku dirinya tidak mendiagnosis atau melakukan assesment kepada NF. Tetapi, Liza menduga NF memiliki gangguan skizofrenia dan psikopat berdasarkan kabar yang beredar.

Liza menduga NF mungkin psikopat melalui kabar bahwa pelaku berusaha memamerkan keahliannya yang termasuk kepribadian narsistik. Di sini NF seolah tertarik melihat orang mencari korban ketika ia berusaha menyembunyikannya di dalam lemari setelah membunuh.

Apalagi NF juga tidak memiliki rasa bersalah hingga berani menyerahkan diri ke kantor polisi. Perilakunya seolah ingin menunjukkan dan melihat respons orang tersebut.

"Mereka (psikopat) senang diperhatikan, diperhatikan polisi sama media, karena mereka memang ada daya narsistik, spotlight-nya ada di dia, diperhatikan. Jadi sebenarnya perhatian yang kita berikan satu Indonesia, justru memberikan insentif buat dia," ujar Liza saat dihubungi Suara.com, Senin (9/3/2020).

Sementara itu, Liza juga menduga NF skizofrenia melalui kabar bahwa pelaku melakukan tindakannya karena mendengar bisikan dari Tuhan. Hal ini seolah menunjukkan pelaku telah berhalusinasi.

Tulisan tangan yang pelaku buat di buku hariannya saat ditampilkan di Polres Metro Jakarta Pusat, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3). [Suara.com/Alfian Winanto]
Tulisan tangan yang pelaku buat di buku hariannya saat ditampilkan di Polres Metro Jakarta Pusat, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3). [Suara.com/Alfian Winanto]

Lalu, apakah orang skizofrenia lebih cenderung melakukan kekerasan, psikotik atau menjadi psikopat?

Sejauh ini gangguan skizofrenia memang sering dikaitkan sebagai kegilaan, seseorang yang kriminal, sadis, suka menyiksa dan membunuh orang yang berdaya. Tetapi, apakah itu benar?

Memang hubungan kuat antara perilaku kekerasan dan psikopat telah ditunjukkan pada populasi forensik nonpsikotik. Namun dilansir dari NCBI, hubungan antara psikopati dan perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia belum sepenuhnya dieksplorasi.

Skor psikopati rata-rata lebih tinggi pada orang yang memiliki riwayat perilaku kekerasan daripada orang yang tidak pernah. Sebanyak 19 persen pasien memiliki skor melebihi batas untuk psikopati dan 50 persen masih berada di kisaran atau di bawah psikopat.

Sedangkan orang yang tidak pernah berperilaku kekerasan mendapat skor yang jauh di bawah kemungkinan psikopati. Skor psikopati yang tinggi juga berkaitan dengan usia lebih muda dari penyakit dan sering diamankan karena pelanggaran kekerasan dan non kekerasan.

Kesimpulannya, kormodibitas skizofrenia dan psikopati ditemukan lebih tinggi pada pasien dengan yang memiliki perilaku kekerasan. Pasien dengan perilaku kekerasan dan skizofrenia bisa mendapat skor cukup tinggi pada tindakan psikopati.

Sehingga orang mungkin memiliki gangguan kepribadian lebih dulu, sebelum munculnya gejala psikotik atau subtipe skizofrenia. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala awal gangguan perilaku kekerasan terus-menerus.

Terkait

Terkini