Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Rabu, 27 Mei 2020

Wabah Virus Corona Covid-19 Pengaruhi Kesehatan Mental Anak, Ini Alasannya

Ahli mengatakan bahwa wabah virus corona Covid-19 yang menekan semua orang agar isolasi diri di dalam rumah bisa pengaruhi kesehatan mental anak-anak.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Anak-anak mengenakan masker bedah (Pexels/Janko Ferlic)
Anak-anak mengenakan masker bedah (Pexels/Janko Ferlic)

Himedik.com - Wabah virus corona Covid-19 telah berdampak besar pada kehidupan sosial manusia. Semua orang diminta tetap tinggal di dalam rumah dan menjaga jarak sosial demi mencegah penyebaran virus semakin meluas.

Situasi ini pastinya berdampak pada kondisi mental banyak orang, karena mesti lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah untuk jangka waktu yang belum jelas.

Apalagi banyak orang juga merasa ketakutan dan cemas akan penularan virus corona yang begitu cepat. Bukan tidak mungkin seseorang bisa mengalami stres berat akibat pandemi global ini.

"Sebelumnya, tekanan sebesar ini belum pernah terjadi, apalagi ini dirasakan oleh semua orang," karta seorang psikoterapis, seperti dikutip dari Fox News.

Bahkan, anak-anak juga dapat merasakan stres akibat wabah virus corona Covid-19. Dr Tali Raviv, associate director Center for Childhood Resilience di Ann & Robert H. Lurie Children's Hospital di Chicago telah mengatakan bahwa wabah ini bisa memengaruhi kesehatan mental anak-anak.

Ilustrasi anak-anak (shutterstock)
Ilustrasi anak-anak (shutterstock)

Ketika stres dan rutinitas terganggu, normalnya orang-orang dari segala usia akan mengalami masa-masa sulit karena tak terbiasa. Pada anak-anak, masa-masa ini mungkin akan menyebabkan mimpi buruk, tangisan hingga amarah.

Orangtua juga dapat melihat tanda-tanda kesehatan mental anak terganggu atau mereka stres, seperti tiba-tiba suka mengisap jempol atau mengompol.

Pada anak remaja, Anda mungkin bakal melihat perubahan fisiologis, seperti perubahan tidur dan nafsu makan, berkurangnya energi atau peningkatan gejala fisik, seperti sakit kepala atau perut.

Beberapa anak-anak mungkin juga lebih nyaman menarik diri dari lingkungan sosial atau terbiasa terisolasi. Akhirnya, meningkatnya kekhawatiran tentang kesehatan dan masa depan juga bakal terjadi.

Walaupun semua ini termasuk reaksi normal, orangtua harus mengamati perilaku anaknya dan memperhatikan perubahannya. Dengan begitu, orangtua bisa membantu menjaga kesehatan mental anak-anak.

Adapun tanda-tanda banyak Anda membutuhkan bantuan profesional untuk menghadapi anak-anak, saat terjadi perubahan perilaku selama lebih dari 1 bulan.

Jika kekhawatiran yang lebih mendesak, bisa jadi bakal muncul beberapa dampak seperti pemikiran kematian atau bunuh diri, perilaku merugikan diri sendiri, serangan panik dan agresi fisik atau verbal yang mengancam keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Terkait

Terkini