cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Rabu, 12 Agustus 2020

Bayi Hanya Alami Gejala Ringan Jika Terinfeksi Covid-19, Ini Penjelasannya

IImuwan jelaskan mengapa bayi hanya mengalami gejala Covid-19 ringan.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi bayi menangis. (Pixabay/StockSnap)
Ilustrasi bayi menangis. (Pixabay/StockSnap)

Himedik.com - Peneliti belum bisa memecahkan teka-teki bagaimana infeksi virus corona memengaruhi bayi. Mereka pun membuat beberapa hipotesis tentang hal itu.

Studi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada April 2020 melaporkan 398 infeksi pada anak di bawah usia satu tahun, sebagian besar dari bayi ini mengalami gejala ringan.

Ulasan baru-baru ini dalam Italian Journal of Pediatrics, yang mengamati bayi baru lahir hingga usia enam bulan, menemukan mereka yang terinfeksi biasanya menunjukkan sedikit batuk, pilek dan demam yang hilang dalam seminggu atau lebih. Penelitian lain menunjukkan reaksi minor yang serupa.

Dilansir dari Scientific American, hal ini meninggalkan tanda tanya besar, mengapa demikian?

Salah satu hipotesis berfokus pada seberapa mudah virus corona dapat masuk ke jaringan tubuh, yaitu melalui reseptor ACE2 dan 'membajak mesin sel' tersebut untuk bereplikasi. Salinan ini kemudian menyerang sel baru.

Ilustrasi bayi sakit (Pexels)
Ilustrasi bayi sakit (Pexels)

Pemikirannya adalah sel-sel bayi hanya memiliki sedikit reseptor ACE2, sedangkan sel-sel dari orang dewasa mungkin menyimpan ribuan. Dengan lebih sedikit 'titik masuk', bisa jadi lebih sulit bagi virus untuk menerobosnya.

Atau, sistem kekebalan bayi mungkin belum matang untuk menyerang SARS-CoV-2, mengingat sebagian besar parahnya Covid-19 tampaknya disebabkan oleh respon imun yang kuat.

Meski begitu, bayi masih termasuk dalam golongan orang yang berisiko tinggi tertular Covid-19. Tingkat risikonya akan menurun seiring bertambahnya usia.

"Ini adalah 'tarian' yang terjadi antara virus dan sistem kekebalan tubuh kita sendiri," jelas Rana Chakraborty, seorang spesialis penyakit menular anak di Mayo Clinic.

Jika pertahanan tubuh bereaksi terlalu sedikit, virus akan bisa mengambil alih. Namun, reaksi berlebihan bisa sama mematikannya.

Jadi, anak-anak dimulai usia sekitar satu tahun, mungkin berada di sweet spot antara bayi, yang sistem kekebalannya belum sepenuhnya kuat, dan orang dewasa, yang pertahanannya terkadang bereaksi secara cepat.

Perawat memasangkan pelindung wajah pada seorang bayi baru lahir (Facebook)
Perawat memasangkan pelindung wajah pada seorang bayi baru lahir (Facebook)

Mendukung hipotesis di atas, sebuah penelitian oleh Leena B. Mithal, spesialis penyakit menular anak di Northwestern University, terhadap 18 bayi di bawah 90 hari yang dites positif SARS-CoV-2 di Rumah Sakit Anak Ann & Robert H. Lurie Chicago menemukan meski setengah dari mereka dirawat di rumah sakit, tidak ada yang memerlukan perawatan intensif.

"Saya pikir itu meyakinkan, bahwa bayi muda sebenarnya mungkin tidak secara khusus berisiko tinggi mengalami penyakit (Covid-19) parah dan kritis, karena kami awalnya khawatir," kata Mithal.

Tapi, peneliti tetap memperingatkan para orangtua untuk menjaga buah hati mereka dari penularan virus corona ini.

"Orang tua harus menyadari bahwa penting untuk melindungi anak-anak, bukan (hanya) dari infeksi itu sendiri, karena itu ringan, tetapi juga dari sindrom pascainflamasi ini," kata Asif Noor, asisten profesor klinis pediatri di New York University.

Mereka juga mengingatkan untuk tetap membatasi kunjungan ke tempat umum selama beberapa bulan pertama bayi dan meminta setiap orang berdiri minimal satu meter dari bayi yang baru lahir.

Terkait

Terkini