Rabu, 26 Februari 2020

Coba Cek, Pasangan Kamu Mengidap Kelainan Seksual Ini Tidak

Kelainan seksual bisa dialami oleh siapa saja.

Rauhanda Riyantama | Dwi Citra Permatasari Sunoto
cloud_download Baca offline
ilustrasi kelainan seksual (orami)
ilustrasi kelainan seksual (orami)

Himedik.com - Ketika kamu memutuskan untuk menikah dengan lelaki atau perempuan pilihanmu. Maka secara tidak langsung kamu dengan sukarela mau menerima baik buruknya. Termasuk kelainan seksual yang bahkan belum kamu ketahui.

Maka dari itu, ada baiknya sebelum menikah kamu menanyakan hal tersebut pada pasanganmu. Jika tidak, dikhawatirkan masalah yang ada akan mengganggu keharmonisan rumah tangga di kemudian hari.

Dilansir dari berbagai sumber berikut beberapa kelainan seksual yang bisa mengidap siapa saja.

1. Fetisisme
Jika pasanganmu bergairah hanya dengan melihat benda-benda mati seperti sepatu atau celana dalam, maka bisa dipastikan ia menderita fetisisme. Bahkan terkadang, benda-benda tersebut juga digunakan ketika berhubungan seksual.

sepatu (dolskill)
sepatu (dolskill)

 

2. Masokisme
Untuk kelainan yang satu ini bisa dibilang sedikit berbahaya. Pasalnya jika pasangan tidak bisa mengimbangi, maka rumah tangga terancam kandas di tengah jalan. Penderita masokisme akan merasa puas jika mendapat kekerasan. Seperti diikat atau digigit.

ilustrasi masokisme (ew.com)
ilustrasi masokisme (ew.com)

 

3. Eksibisionisme
Pada kelainan ini, penderita menunjukkan alat kelaminnya di depan umum dengan tujuan ingin membuat orang asing takut atau terkejut dengan perilakunya. Biasanya penderita tidak akan menindaklanjuti perbuatannya seperti menyerang dan lain sebagainya. Namun, terkadang mereka berani masturbasi atau onani di tempat umum sembari menunjukkan alat kelamin.

Selain yang disebutkan di atas, beberapa kelainan seksual lainnya yaitu sadisme, transvestitisme, froteurisme, dan voyeurisme. Penyebab seseorang mengalami kelainan seksual biasanya karena trauma masa kecil. Sulit mengekspresikan perasaan dan sulit bersosialisai juga bisa menjadi pemicunya.

Untuk langkah penyembuhan, ajaklah pasanganmu ke dokter atau psikiater. Dampingi hingga sembuh, karena dengan menikahinya artinya kamu menerima kekurangannya.

Terkait

Terkini