cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Senin, 03 Agustus 2020

Empat Makanan yang Dihindari oleh Ahli Nutrisi, Apa Saja sih?

Para ahli nutrisi ini menghindari makanan tinggi gula dan makanan olahan.

Rauhanda Riyantama | Dwi Citra Permatasari Sunoto
cloud_download Baca offline
Ilustrasi makanan tinggi gula. (Pixabay/LAWJR)
Ilustrasi makanan tinggi gula. (Pixabay/LAWJR)

Himedik.com - Sebagian besar dari kita ada sudah terbiasa dengan makanan olahan yang mengandung banyak tambahan gula. Padahal terlalu banyak mengonsumsi gula bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Supaya hidup lebih sehat ada baiknya kamu perlu mengubah pola makan. Seperti yang dilakukan oleh pakar nutrisi ini, mereka menghindari beberapa makanan tertentu dengan alasan kesehatan. Dirangkum dari laman Everyday Health berikut ulasannya.

1. Kreasi kopi manis

"Minuman campuran mewah itu di kedai kopi bisa memiliki lebih dari 400 kalori dan 15 sendok teh gula!" kata Johannah Sakimura, MS, ahli nutrisi Sleuth.

Tidak seperti gula yang terjadi secara alami seperti yang ditemukan dalam buah-buahan (fruktosa), gula tambahan seperti sirup atau gula yang ditambahkan ke makanan dapat berbahaya bagi kesehatan.

The American Heart Association merekomendasikan tambahan gula untuk wanita tidak lebih dari enam sendok teh atau 100 kalori sehari, dan pria tidak lebih dari sembilan sendok teh atau 150 kalori sehari.

Kopi. (Pixabay/StockSnap)
Kopi. (Pixabay/StockSnap)

 

2. Hot dog, bacon, dan sosis

Bonnie Taub-Dix, MA, RDN, CDN, kolumnis Everyday Health, mengatakan dia tidak akan pernah makan daging olahan ini untuk alasan kesehetan.

Apalagi menurut sebuah penelitian terbaru, diet tinggi daging olahan seperti bacon dan sosis dapat meningkatkan risiko seseorang meninggal akibat kanker atau penyakit kardiovaskular.

Daging olahan, seperti pepperoni, hot dog, sosis, bacon, dan daging deli, sebaiknya dibiarkan untuk acara-acara khusus atau jarang seperti dalam perjalanan atau acara keluarga.

Jika hot dog dan sosis daging sapi atau babi adalah makanan pokok dalam diet, Taub-Dix menyarankan ayam atau sosis ayam sebagai pilihan yang lebih sehat. Meski demikian, ia mengatakan untuk tetap waspada dengan makanan olahan.

Hotdog. (Pixabay/skeeze)
Hotdog. (Pixabay/skeeze)

 

3. Frosting kalengan

Ini adalah makanan lemak trans lain yang dihindari Sakimura. Ketika dia ingin menikmati hidangan pencuci mulut dengan es, dia membuat lapisan gula dari awal.

"Mudah-mudahan, larangan yang diusulkan FDA pada lemak trans buatan akan segera diselesaikan dan kita tidak perlu khawatir tentang produk yang sarat lemak trans lagi," tambah Sakimura.

4. Margarin stick

Baik Sakimura dan Taub-Dix mengatakan mereka menghindari makanan trans-lemak, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, yang bekerja dengan meningkatkan kadar kolesterol jahat (low-density lipoprotein - LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (high-density lipoprotein - HDL).

Sakimura menghindari margarin stick karena sebagian besar masih dibuat dengan minyak terhidrogenasi sebagian, yang berarti mereka dimuat dengan lemak trans.

Ilustrasi margarin. (Pixabay/kboyd)
Ilustrasi margarin. (Pixabay/kboyd)

 

The American Heart Association merekomendasikan untuk membatasi jumlah lemak trans yang dimakan hingga kurang dari satu persen dari total kalori harian.

"Ketika saya sesekali membuat makanan panggang yang membutuhkan lemak padat, seperti resep kue atau kue tertentu, saya selalu menggunakan mentega. Mentega memang mengandung banyak lemak jenuh, tetapi lemak trans jauh lebih buruk bagi kesehatan," katanya.

Semua makanan di atas memang menggiurkan dan rasanya sulit untuk terlepas darinya. Namun, tentu saja itu semua tidak sepadan jika kesehatan adalah taruhannya. Yuk, mulai hidup sehat!

Terkait

Terkini