Minggu, 20 Oktober 2019

Otak Penuh Cacing Pita, Remaja 18 Tahun Meninggal Setelah Makan Daging Babi

Ada telur cacing pita dari kotoran manusia dalam daging babi itu.

Agung Pratnyawan | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Ilustrasi daging babi - (Pixabay/RitaE)
Ilustrasi daging babi - (Pixabay/RitaE)

Himedik.com - Seorang remaja laki-laki meninggal karena otaknya dipenuhi cacing pita. Peristiwa itu terjadi setelah dirinya makan daging babi yang masih kotor.

Awalnya remaja berusia 18 tahun yang tidak disebutkan namanya itu periksa ke dokter di Faridabad, India karena menderita pembengkakan di mata kanan dan testis kanan, seperti dikutip HiMedik.com dari Mirror.co.uk, Sabtu (30/3/2019).

Orang tua pasien cemas dan memberi tahu dokter bahwa putra mereka telah menderita sakit pada pangkal paha selama lebih dari seminggu.

Begitu melihat hasil pemindaian di ESIC Medical College and Hospital, para dokter tertegun dan merasa ngeri. Menurut sebuah studi kasus di New England Journal of Medicine, rupanya parasit telah menyebar ke otak pasien.

Dari pemeriksaan MRI, terlihat adanya kerusakan yang disebabkan oleh kista di korteks serebral, yang merupakan mantel luar jaringan otak, serta batang otak, termasuk otak kecil, yang berada di belakang kepala di atas sumsum tulang belakang.

Dokter mendiagnosis remaja tersebut dengan Neurocysticercosis. Penyakit parasit otak ini terjadi pada pasien akibat menelan telur cacing pita yang telah melewati kotoran seseorang yang menderita cacing pita usus.

Telur itu menetas dan mengeluarkan larva yang merangkak masuk ke jaringan otot dan otak, tempat terbentuknya kista. Para dokter juga menemukan kista di mata kanan dan testis kanan pasien.

Dokter pun memberikan resep steroid dan antibiotik pada pasien, tetapi ia meninggal dua minggu kemudian, setelah menderita kejang-kejang dan parasit mulai memakan otaknya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, sebagian besar infeksi sistiserkosis terjadi di daerah pedesaan di negara berkembang, tempat babi bisa menjelajah ke manapun dan praktik sanitasi masih buruk.

Meskipun infeksi ini mungkin jarang terjadi pada warga di negara-negara di mana babi tidak memiliki kontak dengan kotoran manusia, sistiserkosis bisa menyerang siapa pun dan di mana saja.

Pasien dengan sistiserkosis tidak dapat menularkan penyakit mereka ke orang lain. Hanya orang-orang dengan infeksi cacing pita di usus yang dapat menyebarkan telur yang berbahaya itu ketika kebersihan kurang layak atau diabaikan.

Terkait

Terkini