Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 02 Juni 2020

Kenali Potensi Anak, Dokter Ungkap Cara Orangtua Stimulasi Anak Sesuai Usia

Orangtua berperan penting dalam tumbuh kembang anak, caranya dengan mengatakan 'Iya Boleh' dan memberi stimulasi sesuai usianya.

Galih Priatmojo | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Psikolog klinis ungkap orangtua berperan penting dalam tumbuh kembang si Kecil agar menjadi anak  unggul (HiMedik/Shevinna Putti)
Psikolog klinis ungkap orangtua berperan penting dalam tumbuh kembang si Kecil agar menjadi anak unggul (HiMedik/Shevinna Putti)

Himedik.com - Dancow Advanced Excelnutri+ meluncurkan modul 'Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia' sebagai bentuk dukungan kepada orangtua dalam memberikan stimulasi dan mengetahui potensi si Kecil. Langkah sederhana ini sekaligus mendukung para orangtua agar tak ragu mengatakan 'Iya Boleh' demi tumbuh kembang si Kecil menjadi anak unggul Indonesia.

Dancow pun merayakan kesuksesan gerakan '1 Juta Iya Boleh' ini di Jogja City Mall, Yogyakarta (6/4/2019) dengan menghadirkan talkshow bersama psikolog klinis dan ahli gizi. Talkshow bersama para pakar tersebut guna membahas faktor pendukung hingga cara membentuk si Kecil menjadi anak yang unggul.

Dr. Ayu Kusuma Dewi, dokter spesialis gizi dari RS Indriati Solo Baru sempat menyampaikan ada 3 faktor utama yang membuat si Kecil menjadi anak unggul. Tiga pilar utama si Kecil menjadi anak unggul itu nutrisi, stimulasi dan cinta dari orangtua.

Ia menjelaskan bahwa stimulasi adalah bagian penting dalam tumbuh kembang anak dan harus diberikan pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) si Kecil. Sebab, anak memasuki masa tumbuh kembang yang pesat dan baik di 2 tahun pertama kehidupannya.

Adapun cara yang bisa dilakukan orangtua dalam memberikan stimulasi kepada si Kecil sesuai usianya.

1. Usia 1 tahun

Orangtua bisa memberikan stimulasi dengan mengajak si Kecil bermain balok susun. Selain itu, ibu juga bisa mengajaknya bercerita dan menjawab semua pertanyaan si Kecil agar kelak ia tak sungkan terbuka dengan orangtuanya.

Penampilan tarian anak-anak di acara Dancow Jogja Cuty Mall (HiMedik/Shevinna Putti)
Penampilan tarian anak-anak di acara Dancow Jogja Cuty Mall (HiMedik/Shevinna Putti)

2. Usia 3 tahun

Pada rentan usia 3 tahun ke atas ini, orangtua sudah harus mulai mengajarkan si Kecil cara mencuci tangan dan kaki. Orangtua juga boleh mulai mengajarkan si Kecil tentang huruf dan angka untuk perkembangan otaknya. Aktivitas fisik lainnya yang bisa dilakukan dengan mengajaknya bermain bola atau berlari.

3. Usia 5 tahun

Di usia 5 tahun, orangtua semestinya sudah berani melatih stimulasi anak dalam taraf yang lebih tinggi lagi. Caranya dengan mengajak si Kecil bermain sepeda, mengajarkannya membantu pekerjaan rumah serta menulis namanya sendiri.

Meski sudah memiliki asisten rumah tangga, tak ada salahnya untuk tetap mengenalkan kepada si Kecil tentang pekerjaan rumah tangga demi memberi stimulasi tumbuh kembangnya.

Begitu pula saran psikolog klinis, Tri Novita Hardalena mengenai peran orangtua dalam tumbuh kembang anak. Ia menegaskan orangtua mengambil peranan penting dalam membentuk si Kecil menjadi anak yang unggul.

Caranya dengan mendukung 5 potensi yang membuat si Kecil menjadi anak unggul, yakni anak yang berani, cerdas, kreatif, peduli dan pemimpin. Seperti mendukung si Kecil bermain di alam terbuka agar berani, bermain balok susun untuk mengasah kecerdasannya, bermain cap tangan untuk memancing kreativitas, memelihara binatang agar menumbuhkan rasa peduli dan merapihkan mainan sebagai bentuk tanggung jawab.

Novita mengatakan orangtua tak perlu ragu dan takut si Kecil mengeksplorasi dunianya karena dari situlah mereka banyak belajar, melatih motorik dan memupuk rasa percaya diri. Bukan berarti tak boleh khawatir, orangtua hanya perlu mengontrol rasa khawatirnya dengan cara terlibat secara langsung dalam aktivitas si Kecil.

"Manfaatnya (eksplorasi) anak akan menjadi lebih berani, cerdas, peduli, kreatif dan memiliki jiwa pemimpin. Contohnya seperti mengajak teman di sekitarnya itu bermain itu wujud memiliki jiwa pemimpin," ujar Tri Novita.

Artinya, orangtua harus bisa memastikan si Kecil siap mengeksplorasi, memastikan benda di sekitarnya tidak berbahaya dan selalu mengawasi pergerakan si Kecil. Sehingga si Kecil bisa tetap aman selama asyik mengeksplorasi dunianya.

Terkait

Terkini