Sabtu, 07 Desember 2019

Pengaruhi Tumbuh Kembang, Ahli Gizi Ungkap Makanan Wajib untuk Anak

Anak di masa tumbuh kembang wajib mengonsumsi makanan yang mengandung prebiotik dan probiotik, seperti kacang-kacangan hingga yoghurt.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Shevinna Putti Anggraeni
Ahli gizi ungkap beberapa jenis makanan yang mengandung prebiotik dan probiotik wajib dikonsumsi anak di masa tumbuh kembang (HiMedik/Shevinna Putti)
Ahli gizi ungkap beberapa jenis makanan yang mengandung prebiotik dan probiotik wajib dikonsumsi anak di masa tumbuh kembang (HiMedik/Shevinna Putti)

Himedik.com - Orangtua memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang anak. Hal itu terutama dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang si kecil yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangannya.

Kurangnya perhatian orangtua terhadap gizi anak bisa saja membuat daya tahan tubuhnya lemah dan mudah terserang penyakit. Dampaknya, tumbuh kembang anak pun terhambat karena orangtua pasti akan lebih banyak melarang si kecil untuk mengeksplorasi dunianya.

Padahal eksplorasi adalah cara terbaik si kecil belajar, melatih motorik, mendapat stimulasi dan memupuk rasa percaya dirinya.

Dr. Ayu Kusuma Dewi, dokter spesialis gizi dari RS Indriatu Solo Baru dalam acara Dancow 'Iya Boleh Camp' mengakui kalau anak di bawah usia 5 tahun memang paling rentan terserang penyakit, seperti penyakit infeksi saluran pernapasan dan persentase mencapai 41,9% dan diare 12%.

Meski begitu, anak di rentan usia tersebut juga wajib mendapatkan stimulasi dan mengeksplorasi dunianya untuk mencapai angka standar tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, dr. Ayu Kusuma menegaskan bahwa anak rentan usia tersebut harus mendapatkan asupan probiotik seperti lactobacillus rhamnosus.

Dancow meluncurkan modul 'Iya Boleh' sebagai panduan orangtua dalam mendukung tumbuh kembang anak (HiMedik/Shevinna Putti)
Dancow meluncurkan modul 'Iya Boleh' sebagai panduan orangtua dalam mendukung tumbuh kembang anak (HiMedik/Shevinna Putti)

Sebab, lactobacillus rhamnosus tersebut sudah teruji klinis mampu menurunkan risiko anak terserang infeksi pernapasan hingga sebesar 37%, diare 63% dan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Jadi, orangtua tak perlu khawatir si kecil akan terserang penyakit jika bermain di alam terbuka jika sudah mendapatkan prebiotik dan probiotik seimbang.

Walau demikian, jumlah kebutuhan lactobacillus rhamnosus setiap anak pun berbeda-beda. Pola makan menjadi faktor utama yang menentukan kadar probiotin atau bakteri baik yang diperlukan pada tubuh masing-masing anak.

Umumnya, orangtua memenuhi asupan prebiotik dan probiotik si Kecil dengan memberinya susu sebagai gizi tambahan di luar makanan utamanya.

''Jumlah lactobacillus rhamnosus yang dibutuhkan setiap anak tergantung dari pola makan utamanya. Kalau umpama pola makan utamanya dia sudah cukup banyak mengandung prebiotik dan probiotik ya mungkin dia tambahannya nggak perlu banyak. Tapi kalau umpama makanannya dia jarang yang mengandung prebiotik dan probiotik ya berarti kita harus memberi tambahan susu atau suplemen khusus itu aja,'' kata dr. Ayu Dewi dalam acara Dancow 'Iya Boleh' di Jogja City Mall, Sabtu (6/4/2019).

Yoghurt dan susu. (pixabay)
Yoghurt dan susu. (pixabay)

Adapun makanan sehari-hari mengandung prebiotik dan probiotik yang sangat dianjurkan untuk konsumsi makanan harian si kecil antara lain:

Probiotik

  1. Yoghurt
  2. Tempe

Prebiotik

Selain pola makan, kadar probiotik yang dibutuhkan setiap anak juga dipengaruhi dari usia hingga kondisi fisik masing-masing. Anak dengan kondisi kesehatan yang kurang baik tentu memiliki asupan probiotik yang lebih banyak dari standar pada umumnya.

Selai kacang. (pixabay/cgdsro)
Selai kacang. (pixabay/cgdsro)

''Kebutuhan prebiotik dan probiotik itu tergantung usianya, jenis kelaminya, aktivitasnya dia anak aktif atau enggak, kondisi tubuhnya maksudnya sakit atau nggak dan lihat status gizinya. Kalau dia masuk gizi yang kurang ya kita harus memberikan di atas rata-rata kebutuhan anak pada umumnya,'' jelasnya.

Ia pun memaparkan sejumlah penyebab anak kekurangan bakteri baik atau probiotik dalam tubuhnya, salah satunya karena mengonsumsi antibiotik tertentu.

Anak yang sering mengonsumi antibiotik biasanya kekurangan bakteri baik. Karena, antibiotik yang dikonsumsinya dapat membunuh bakteri baik di dalam saluran pencernaan.

Akibatnya, anak tersebut akan lebih mudah terserang penyakit saluran cerna. Sebab, pencernaannya tidak bisa bekerja secara optimal lagi.

''Jadi contohnya kalau anak ini sering sakit, sering dapat antibiotik. Antibiotik itu kan juga membunuh bakteri baik dalam saluran cerna. Jadi kalau bakteri baik di saluran cernanya dia kurang ya pasti pencernaannya nggak bisa optimal. Terus meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan, diare dan berisiko alergi juga,'' paparnya. 

Terkait

Terkini