Jum'at, 15 November 2019

Makanan Masuk Paru-paru karena Sulit Ditelan, Nenek 97 Tahun Meninggal

Terjadi banyak komplikasi pada tubuh sang nenek.

Agung Pratnyawan | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Ilustrasi tangan orang sekarat - (Shutterstock)
Ilustrasi tangan orang sekarat - (Shutterstock)

Himedik.com - Seorang nenek 97 tahun meninggal setelah paru-parunya kemasukan makanan. Penyebab kematian nenek itu berkaitan dari mega-esofagus.

Mega-esofagus, yang dialami korban, terjadi ketika pipa makanan membesar dengan sangat berlebihan hingga bisa pecah.

Selama bertahun-tahun, wanita yang tidak disebutkan namanya itu telah mengalami regurgitasi makanan, nyeri dada, dan kesulitan menelan makanan.

Dokter awalnya meresepkan obat yang berhubungan dengan masalah refluks, tetapi ternyata korban menderita akalasia. Kondisi langka itu bisa menyebabkan penderitanya kesulitan menelan makanan karena otot dan saraf di pipa makanan rusak.

Jika tidak diobati, akalasia bisa menyebabkan kerongkongan menjadi terlalu besar, sehingga otot-otot tidak dapat meregang lagi dan makanan masuk ke tempat yang salah.

Dalam kasus wanita itu, HiMedik.com mengutip DailyMail.co.uk, Kamis (9/5/2019), kematiannya disebabkan infeksi paru-paru ketika potongan makanan yang sudah busuk terhirup ke paru-paru.

Para dokter di Baylor Scott and White clinic di Temple menceritakan kisahnya dalam BMJ Case Reports.

Mega-esofagus adalah komplikasi parah akalasia.

Wanita itu, yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, pertama kali diperiksa dokter setelah jatuh di rumah.

ilustrasi paru-paru - (Pixabay/kalhh)
ilustrasi paru-paru - (Pixabay/kalhh)

 

Menurut tim dokter, yang dipimpin oleh Dr Waqas Aslam, sang nenek telah dirawat dengan obat untuk gejala yang mirip dengan penyakit refluks gastro-esofagus, di mana asam lambung muncul kembali melalui pipa makanan dan menyebabkan jantung terbakar.

Namun, beberapa minggu menjelang kematiannya, dia juga mengalami kesulitan untuk memakan apa pun karena susah untuk menelan, suatu kondisi yang dikenal dengan nama disfagia.

Setelah jatuh dengan posisi pinggul menumpu tubuh, nenek itu langsung menjalani berbagai scan dan tes. Dia mengalami patah pada bagian paha, cedera yang umum terjadi pada orang tua dan perlu dioperasi.

Namun, tes juga mengungkapkan bahwa ia memiliki kadar natrium yang sangat rendah dan infeksi saluran kemih, yang menurut para dokter disebabkan oleh kurangnya makanan dan obat tekanan darah.

Pemindaian pada dadanya kemudian menunjukkan bahwa kerongkongan pasien lebih besar dari lebar normal sekitar 1,5 hingga 2cm.

Setelah pasien menjalani operasi untuk memperbaiki pinggul, dokter menjelaskan bahwa dia terkena suatu penyakit otak, ensefalopati, dan masalah pernapasan, meskipun tidak dijelaskan dengan pasti.

"CT scan dada dilakukan untuk evaluasi lebih lanjut dan mengungkapkan adanya kerongkongan yang melebar dan hernia hiatal," tulis para dokter.

Hernia hiatal adalah kondisi ketika bagian atas perut menonjol melalui otot besar, yang memisahkan perut dan dada.

Lalu dokter juga menemukan bahwa kerongkongan pasien pecah di beberapa tempat. Satu-satunya pilihan yang mereka miliki adalah menggunakan bantuan selang makanan di perut, dan wanita itu dipulangkan untuk rawat jalan.

"Sayangnya, dia meninggal beberapa minggu kemudian karena pneumonia aspirasi dan kelemahan parah," kata para dokter.

"Megaesofagus dikaitkan dengan peningkatan risiko pneumonia aspirasi, malnutrisi berat, dan kelainan elektrolit, terutama pada populasi lansia, yang mengarah pada morbiditas dan mortalitas yang signifikan."

Terkait

Terkini