Kamis, 20 Juni 2019

Ayah Dewi Perssik Meninggal, Ini Efek Kehilangan Orang Tercinta pada Tubuh

Ternyata kehilangan orang tercinta berdampak pada tubuh, dan inilah yang terjadi.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Dewi Perssik dan ayahnya - (Instagram/@dewiperssikreal)
Dewi Perssik dan ayahnya - (Instagram/@dewiperssikreal)

Himedik.com - Dewi Perssik dikatakan sudah mulai mengkihlaskan kepergian sang ayahanda, Mochammad Aidil.

Seperti yang dikabarkan, ayah Dewi Perssik meninggal dunia pada Minggu (9/6/2019) ini, pukul 14.45 WIB di Rumah Sakit Siloam, Semanggi, Jakarta Selatan. Memang beberapa waktu ini ayah Depe dirawat di rumah sakit akibat menderita komplikasi diabetes, penyakit ginjal dan paru-paru.

Keluarga besar Dewi Perssik pun sudah berkumpul di rumah sakit, tempat jenazah disemayamkan untuk sementara waktu.

"Sebagian keluarga sudah di sini, semua (anak-anak almarhum) ada di sini," ujar Angga saat ditemui tim Suara.com di rumah sakit.

Nantinya, jenazah akan langsung diberangkatkan ke bandara untuk dimakamkan di Jember. Namun, belum dapat dipastikan kapan tepatnya karena belum selesai dengan administrasi rumah sakit.

"Dari sini langsung ke bandara. Belum tahu gimananya, masih tunggu kepastian dokternya bisa keluar dari rumah sakitnya jam berapa," tukasnya.

Kepergian sang ayah tentu menjadi duka mendalam bagi Dewi Perssik, mengingat sang pedangdut kondang ini sangat dekat dengan mendiang ayahnya.

Tidak ada perbaikan yang mudah untuk mengatasi rasa kehilangan orang yang dicintai. Ini adalah rasa sakit yang akan berkurang seiring waktu, tetapi itu mungkin tidak pernah hilang sepenuhnya.

Melansir Mayo Clinic, kebanyakan orang berduka akan memiliki periode kesedihan, mati rasa, dan bahkan rasa bersalah hingga marah. Tapi secara bertahap perasaan ini akan mereda.

Inilah yang akan dirasakan seseorang saat orang kehilangan orang yang dicintainya.

1. Fisik melemah

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Aging and Immunity, dilansir The Atlantic, menemukan kehilangan orang yang dicintai membuat seseorang lebih rentan terjadap penyakit menular, khususnya pada orang yang lebih tua.

Ini adalah efek dari hormon stres kortisol, yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, diimbangi oleh hormon yang disebut DHEA, yang meningkatkan efektivitas neutrofil (sel darah putih yang digunakan untuk melawan infeksi).

Tetapi sekitar usia 30, tingkat DHEA seseorang mulai turun, membuat sistem kekebalan tubuh mereka lebih rentan terhadap pengaruh kortisol pada saat stres.

2. Berisiko terkena serangan jantung

Sebuah studi pada 2012 yang diterbitkan dalam jurnal Circulation menemukan, risiko seseorang mengalami serangan jantung meningkat 21 kali lipat dalam sehari segera setelah kematian orang yang dicintai dan enam kali lipat pada minggu berikutnya.

Penelitian lain yang dipublikasikan pada awal 2014 di JAMA Internal Medicine juga menunjukkan risiko serangan jantung atau stroke setelah kehilangan pasangan atau orang yang dicintai tetap meningkat selama sebulan.

3. Patah hati

Kondisi jantung orang yang alami patah hati (YouTube/ABC15 Arizona)
Kondisi jantung orang yang alami patah hati (YouTube/ABC15 Arizona)

Sindrom 'patah hati' bukan hanya ungkapan saja, namun nyata. Dalam dunia medis ini disebut dengan kardiomiopati takotsubo.

Ini terjadi ketika stes emosional yang ekstrem menyebabkan salah satu ruang jantung membengkak, memicu gejala yang mirip dengan serangan jantung.

Tapi, tidak seperti serangan jantung. Kondisi ini biasanya reversibel dan sangat jarang berakibat fatal, menurut American Heart Association, dengan waktu pemulihan beberapa hari.

4. Kesedihan memengaruhi fungsi kognitif

M. Katherine Shear, profesor psikiatri di Universitas Columbia, mengatakan kepada Everyday Health, "kesedihan dapat mengganggu kemampuan untuk berpikir jernih, membuat keputusan dan penilaian, dan menyelesaikan masalah.”

Pada studi 2010 juga menemukan, kesedihan dapat menurunkan kinerja memori.

Terkait

Terkini