Minggu, 20 Oktober 2019

Benarkah Patah Hati Pengaruhi Risiko Kanker? Ini Menurut Studi

Sebuah studi dalamJournal of American Heart Associationmengungkapkan, patah hati bisa memengaruhi risiko kanker.

Vika Widiastuti | Shevinna Putti Anggraeni
Ilustrasi patah hati - (Shutterstock)
Ilustrasi patah hati - (Shutterstock)

Himedik.com - Patah hati bukan cuma tentang perasaan, bahkan bisa berpengaruh terhadap kesehatan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of American Heart Association mengungkapkan, patah hati bisa memengaruhi risiko kanker.

Studi tersebut menemukan 1 dari 6 orang yang mengalami sindrom patah hati lebih berisiko menderita kanker dan meninggal dalam waktu 5 tahun lebih cepat dibandingkan orang tanpa sindrom patah hati.

Sindrom patah hati yang juga disebut stres cardiomyopathy adalah suatu kondisi sementara yang disebabkan oleh situasi-situasi yang membuat stres.

Menurut Mayo Clinic yang dikutip NBC News, sindrom patah hati membuat satu bagian dari jantung berhenti memompa secara normal yang menyebabkan bagian jantung lainnya memompa lebih cepat.

Sebuah studi tahun 2018 juga menemukan bahwa pasien yang didiagnosis dengan sindrom patah hati dua kali lebih mungkin menghadapi komplikasi klinis selama proses pengobatan jika mereka juga menderita kanker.

Patah hati. (Shutterstock)
Patah hati. (Shutterstock)

 

Dalam studi baru, para peneliti juga melihat data dari Internasional Tokotsubo Registry pada lebih dari 1.600 pasien dengan sindrom patah hati.

Mereka menemukan bahwa 1 dari 6 penderita kanker, 90 persennya akan berjenis kelamin perempuan. Jenis kanker yang paling sering terjadi adalah kanker payudara.

Selain kanker payudara, mereka juga rentan kanker sistem pencernaan, saluran pernapasan, organ seks, kulit dan area lainnya.

Orang dengan sindrom patah hati juga dua kali lebih mungkin mengalami pemicu fisik versus pemicu emosional sindrom patah hati dibandingkan orang tanpa sindrom patah hati.

Namun, studi ini hanya mencari hubungan antara risiko kanker dengan sindrom patah hati tanpa melihat faktor lainnya yang bisa menjadi penyebab.

"Studi kamu harus meningkatkan kesadaran ahli onkologi dan hematologi bahwa sindrom patah hati harus dipertimbangan pada pasien yang menjalani pengobatan kanker," kata Dr. Christian Templin, Direktur Kardiologi Intervensional Laboratorium Katerisasi Jantung di University Heart Center Zurich.

Terkait

Terkini