Kamis, 17 Oktober 2019

Millen Cyrus Lakukan Terapi Hormon, Ini Risiko Efek Sampingnya

Terapi hormon seperti yang dilakukan Millen Cyrus juga bisa menimbulkan efek samping. Apa saja?

Rauhanda Riyantama | Rosiana Chozanah
Millendaru membuat pengakuan kalau hormon wanitanya lebih tinggi dari hormon pria sejak kecil (Instagram/@millencyrus)
Millendaru membuat pengakuan kalau hormon wanitanya lebih tinggi dari hormon pria sejak kecil (Instagram/@millencyrus)

Himedik.com - Millen Cyrus, mengaku dirinya melakukan terapi hormon. Ini dilakukannya untuk mengubah fisik dari laki-laki menjadi perempuan. 

Meski begitu, Millen mengaku dirinya tidak akan pernah melakukan operasi ganti kelamin.

Hal ini diungkapkannya ketika menjadi bintang tamu dalam 'Bisik-Bisik Tetangga' yang tayang pada Senin (22/7/2019) di kanal YouTube MOP Channel.

Berdasarkan Mayo Clinic, terapi seperti ini disebut dengan terapi hormon feminisasi. Terapi ini menggunakan estrogen untuk mengurangi produksi testosteron dan memicu feminisasi.

Terapi hormon ini akan mengubah beberapa hal, seperti perubahan fisik, perubahan keadaan emosi, perubahan seksual hingga perubahan sistem reproduksi, melansir transcare.ucsf.edu.

Sayangnya, terapi feminisasi ini juga mempunyai beberapa efek samping atau risiko.

Millendaru. (Instagram/@millencyrus)
Millendaru. (Instagram/@millencyrus)

- Gumpalan darah di pembuluh darah dalam (trombosit pembuluh darah dalam) atau di paru-paru (emboli paru).
- Trigliserida tinggi, sejenis lemak (lipid) dalam darah
- Batu empedu
- Berat badan bertambah
- Tes fungsi hati yang meningkat
- Penurunan libido
- Disfungsi ereksi
- Infertilitas
- Kalium tinggi (hiperkalemia)
- Tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Diabetes tipe 2
- Penyakit kardiovaskular, ketika setidaknya ada dua faktor risiko kardiovaskular lainnya.
- Prolaktin berlebihan dalam darah (hiperprolaktinemia) atau suatu kondisi di mana tumor non-kanker (adenoma) kelenjar hipofisis di otak memproduksi hormon prolaktin (prolaktinoma) secara berlebihan.

Namun bukti terkini menujukkan belum ada peningkatan risiko kanker payudara.

Terkait

Terkini