Kamis, 17 Oktober 2019

Kurangi Kebiasaan Sambat, Ini Bahaya Fisik Hobi Mengeluh

Kebiasaan sering mengeluh atau sambat bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Shevinna Putti Anggraeni
Ilustrasi orang mengeluh (shutterstock.com)
Ilustrasi orang mengeluh (shutterstock.com)

Himedik.com - Anda pasti termasuk orang yang pernah mengeluh. Jika itu terlalu sering,  Anda harus mulai menguranginya karena kebiasaan mengeluh dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik.

Seperti Ho Joo, pria 45 tahun asal Singapura yang mengaku sering mengeluh setiap menghadapi masalah. Ia pun mulai menyadari bahwa kebiasaannya itu berdampak buruk pada kesehatan tubuh seiring berjalannya waktu.

"Kadang-kadang saya menemukan diri saya mengeluh tanpa berpikir tentang hal sama berulang kali. Setelah beberapa saat, saya menyadari bahwa mengeluh tak menyelesaikan apapun," ujarnya dikutip dari Asia One.

Banyak orang mengira mengeluh bisa mengurangi beban dan menghindari stres. Sayangnya, kebiasaan ini malah bisa memengaruhi kesehatan fisik dalam jangka panjang.

Penelitian tahun 2004 oleh Archives of General Psychiatry telah mensurvei 999 pria dan wanita tua selama hampir satu dekade dan ada 397 peserta meninggal dunia.

Ilustrasi stres (shutterstock)
Ilustrasi stres (shutterstock)

Hasilnya, para peneliti menemukan peserta yang menganggap dirinya sangat optimis memiliki risiko kematian lebih rendah hingga 55 persen.

Berbeda dengan orang yang lebih sering mengeluh. Mereka berisiko 23 persen lebih tinggi mengalami kematian akibat gagal jantung.

Menurut peneliti, hal ini bisa disebabkan depresi berat yang dikaitkan dengan pandangan negatif sebagai faktor risiko masalah kardiovaskular.

Mereka menjelaskan, keluhan berkepanjangan bisa membuat seseorang merasa cemas, mudah tersinggung, tidak berdaya, dan putus asa.

Pemikiran negatif itulah yang justru meningkatkan stres kronis hingga memengaruhi otak secara negatif.

Ilustrasi stres (shuttertsock)
Ilustrasi stres (shuttertsock)

Pada 2014, studi oleh University of California di dalam jurnal Molecular Psychiatry menemukan bahwa orang yang menderita stres kronis mengalami perubahan di otak. Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap kecemasan dan gangguan suasana hati.

Sebuah studi tahun 2008 oleh University of California yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience juga menemukan bahwa stres jangka pendek dapat menyebabkan masalah komunikasi antara sel-sel otak di daerah yang terkait dengan memori.

"Perilaku seperti itu bisa merusakan suasana hati Anda hari itu juga dan memengaruhi ketahanan emosional dalam jangka panjang," kata Sebastian Droesler, psikolog konseling di Hongkong, dikutip dari Asia One.

Hal berbeda berlaku untuk mereka yang memiliki kebiasaan mengeluh hanya ketika merasa perlu, tidak setiap saat. Mereka terlihat lebih bahagia dan penuh perhatian.

Terkait

Terkini