Senin, 16 September 2019

Mi Instan Dapat Tingkatkan Risiko Sindrom Metabolik, Apa Itu?

Sindrom metabolik adalah sekelompok kondisi yang terjadi bersamaan, meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Rosiana Chozanah
Menikmati mi instan. (Unsplash/Edanur Ağaç)
Menikmati mi instan. (Unsplash/Edanur Ağaç)

Himedik.com - Walaupun enak dan mudah dibuat serta murah, menurut sebuah penelitian yang dikutip dari Live Science, mi instan dapat meningkatkan risiko perubahan metabolisme yang berkaitan dengan penyakit jantung dan stroke.

"Meski mi instan itu mudah dibuat dan enak, ada kemungkinan makanan ini bisa meningkatkan risiko 'sindrom metabolik' dari tingginya kandungan natrium, lemak jenuh tidak sehat dan kandungan glikemik," ungkap rekan penulis dari studi Hyun Shin, seorang kandidat doktoral di Harvard Sekolah Kesehatan Masyarakat di Boston.

Penelitian ini menganalisis kesehatan dan pola makan hampir 11 ribu orang dewasa di Korea Selatan dengan usia antara 19 hingga 64 tahun.

Hasil penelitian melaporkan, wanita yang makan mi instan dua kali sepekan atau lebih memiliki risiko lebih tinggi mengalami sindrom metabolik daripada mereka yang makan mi instan jarang atau tidak sama sekali.

Namun untuk para lelaki, hasilnya justru berbeda.

Ilustrasi sakit dada lelaki. (Shutterstock)
Ilustrasi sakit pada dada lelaki. (Shutterstock)

Shin dan rekan-rekannya menebak perbedaan biologis antara jenis kelamin, seperti efek hormon seks dan metabolisme, mungkin menerangkan kurangnya hubungan yang jelas antara makan mi instan dan mengembangkan sindom metabolik.

Berdasarkan Mayo Clinic, sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi yang terjadi bersamaan, meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Bagian apa yang buruk dari mi instan?

"Mie instan mengandung banyak lemak, tinggi garam, tinggi kalori dan diproses, semua faktor tersebut dapat berkontribusi pada beberapa masalah kesehatan yang ditangani oleh para peneliti," ujar Lisa Young, seorang ahli gizi dan profesor di New York University.

"Itu tak berarti bahwa setiap orang akan merespons dengan cara yang sama, tapi yang perlu diingat adalah bahwa itu bukan produk yang sehat, dan itu adalah makanan olahan," imbuhnya.

Sajian mi instan. (Unsplash/Piotr Miazga)
Sajian mi instan. (Unsplash/Piotr Miazga)

Makanan olahan umumnya mengandung gula dan garam dalam jumlah tinggi, terutama karena mereka dirancang agar sanggup bertahan lama.

Namun, Young mengatakan mungkin ada cara untuk meredam bahaya mi instan selain tidak mengonsumsinya sama sekali.

"Nomor satu, jangan makan setiap hari. Nomor dua, kontrol porsi," papar Young.

Ia juga merekomendasikan untuk mengonsumsi mi instan dengan menambahkan sayuran serta makanan lain yang lebih sehat dan tidak diproses.

Terkait

Terkini