cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Sabtu, 19 September 2020

Lembur Kerja hingga Larut Malam Selama 3 Bulan, Tubuh Wanita Ini Penuh Ruam

"Aku tidak bisa memakai pakaian apa pun untuk tidur. Tubuhku terasa seperti terbakar," katanya.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi pekerja kantoran (Pixabay/hamonazaryan1)
Ilustrasi pekerja kantoran (Pixabay/hamonazaryan1)

Himedik.com - Seorang wanita yang berasal dari Samut Prakan, Thailand mengungkapkan pengalamannya di mana tubuhnya penuh ruam yang menyiksa setelah dirinya lembur bekerja selama berbulan-bulan. 

Ini dialaminya setelah selalu bekerja lembur hingga larut malam selama tiga bulan. Bahkan jam tidurnya menjadi berkurang akibat lembur hingga daya tahan tubuhnya melemah.

Toq Taeq Kerdmee membagikan kisahnya di Facebook tentang bagaimana dirinya terkadang harus pulang larut malam hingga jam tiga dini hari.

Terkadang ia juga mengalami insomnia, membuatnya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat.

"Aku pikir itu hanya gigitan serangga, tapi saat pagi hari, ruamnya mulai menyebar. Jadi aku pergi ke dokter yang juga mengatakan ini adalah gigitan serangga," kata Kerdmee, melansir World of Buzz.

Setelah itu sang dokter memberinya obat anti-peradangan. Sayangnya, ruam Kerdmee justru memburuk saat datang ke pesta ulang tahun temannya di mana ia makan makanan laut.

Ruam di seluruh tubuh (Facebook/ToqTaeq Kerdmee)
Ruam di seluruh tubuh (Facebook/ToqTaeq Kerdmee)

Dia kembali memeriksakan dirinya ke dokter lain sebanyak dua kali, tetapi kedua dokter itu mengatakan Kerdmee mengalami alergi. Sehingga mereka hanya memberi suntikan untuk mengurangi peradangan.

Hingga suatu malam ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

"Aku tidak bisa memakai pakaian apa pun untuk tidur. Tubuhku terasa seperti terbakar dan rasaya ada jutaan semut yang menggigit tubuhku," tambahnya.

Akhirnya keluarganya membawa Kerdmee ke rumah sakit saat demamnya mencapai 40,2 derajat Celcius.

Setelah mengambil sampel darahnya untuk diperiksa, dokter mengatakan sistem kekebalan Kerdmee sudah terpengaruh karena kekurangan tidur.

Berdasarkan Mayo Clinic, sistem kekebalan akan melepaskan protein yang disebut sitokin selama tidur. Salah satu fungsinya adalah untuk meningkatkan kualitas tidur.

Kekurangan tidur dapat mengurangi produksi sitokin. Selain itu, antibodi dan sel yang membawa infeksi akan berkurang jika tubuh kekurangan tidur.

Belajar dari pengalamannya, Kerdmee mengimbau kepada warganet untuk tidak mengabaikan peringatan dari tubuh dan jangan hanya berpikir tentang menghasilkan uang saja.

"Jika Anda memiliki kondisi abnormal, Anda harus bergegas mencari perawatan medis. Menunda perawatan medis akan membuatnya menjadi lebih serius," tulis Kerdmee pada akhir unggahannya.

Terkait

Terkini