Kamis, 17 Oktober 2019

Antara Seks Anal atau Vaginal, Mana yang Lebih Mudah Tularkan HIV

Penularan HIV melalui cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi HIV yang tinggi.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Ilustrasi HIV - (Shutterstock)
Ilustrasi HIV - (Shutterstock)

Himedik.com - Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh. Virus ini bisa ditularkan melalui beberapa cara, seperti tranfusi darah, penggunaan jarum suntik, dan hubungan intim. 

HIV dapat menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), sebuah diagnosis infeksi HIV tahap akhir yang sangat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan dapat berakibat fatal, jika tidak ditangani, menurut healthline.

Penularan HIV melalui cairan tubuh tertentu yang mampu mengandung konsentrasi HIV yang tinggi. Cairan ini termasuk darah, air mani, cairan vagina dan dubur, dan ASI.

Berdasarkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) cairan ini harus bersentuhan dengan selaput lendir atau jaringan yang rusak.

Tentu saja, salah satu penularan HIV adalah selama hubungan seksual, baik melalui seks vagina maupun seks anal. Meskipun cairan bisa juga masuk ke aliran darah melalui suntikan jarum.

Nyatanya, hubungan seks anal justru dinilai mempunyai risiko lebih tinggi untuk penularan HIV daripada hubungan seks vaginal.

Gaya bercinta air terjun untuk penetrasi yang lebih dalam. (Shutterstock)
Ilustrasi bercinta (Shutterstock)

"Untuk pasangan HIV-negatif, seks anal reseptif (bottomning) adalah perilaku seksual berisiko tinggi, tetapi Anda juga bisa mendapatkan HIV dari seks anal insertif (topping)," tulis CDC.

CDC juga menuliskan, masing-masing pasangan dapat tertular HIV melalui hubungan seks vaginal, walaupun risikonya lebih rendah untuk tertular HIV daripada seks anal reseptif.

Tidak hanya itu, ada kemungkinan terjadi pendarahan selama seks anal karena jaringan rapuh yang melapisi anus atau saluran anus.

Hal ini memungkinkan virus memasuki tubuh dengan lebih mudah. Bahkan jika perdarahan tidak terlihat karena kerusakan pada mukosa dubur mungkin mikroskopis (sangat kecil).

Sedangkan untuk kasus jarang, HIV juga dapat ditularkan melalui seks oral.

"Tetapi penularan HIV, meskipun sangat jarang, secara teori mungkin saja jika seorang pria HIV-positif berejakulasi di mulut pasangannya selama seks oral," jelas CDC.

Terkait

Terkini