Kamis, 17 Oktober 2019

Film Joker Secara Eksplisit Gambarkan Stereotip Gangguan Mental & Kekerasan

'Menyalahkan gangguan mental ketika kekerasan senjata terjadi', adalah stereotip yang dimainkan dalam film ini.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Joker (YouTube/Warner Bros)
Joker (YouTube/Warner Bros)

Himedik.com - Film 'Joker' berhasil menyita perhatian penikmat seni peran sejak penayangannya pada 2 Oktober 2019 kemarin. Bahkan, film ini menjadi perbincangan karena mengangkat isu yang selama ini tak pernah dibahas masyarakat, yaitu kesehatan mental.

Misalnya, banyak warganet yang merasa film ini berhasil memicu berbagai emosi mereka ketika menontonnya.

Hingga mereka memberi imbauan untuk berhati-hati pada orang yang memiliki isu kesehatan mental.

"Mengingatkan followers di IG soal film Joker yang bisa men-trigger mental penonton. Tapi ada dua yg reply begini. Cuma dua, tapi saya lebih kepikiran yang kayak mereka ini."

"Mereka sebelum nonton ga ada yang kasih warning," cuit Adriandhy di Twitter-nya, Sabtu (5/10/2019).

Cuitan tentang film Joker (Twitter/Adriandhy)
Cuitan tentang film Joker (Twitter/Adriandhy)

Seperti yang kita tahu bahwa film ini juga mempertontonkan berbagai kejahatan yang dilakukan oleh Joker.

Melansir INSIDER, film ini seakan mewakili kondisi sosial sekarang. Di mana orang yang mengidap masalah kesehatan mental harus ditakuti atau dihindari.

Tidak hanya itu, Joker juga memainkan stereotip 'menyalahkan gangguan mental ketika kekerasan senjata terjadi'.

Padahal, pada kenyataannya justru berkebalikan dari stereotip tersebut.

Menurut Time to Change, organisasi yang bertujuan untuk memerangi diskriminasi terhadap kesehatan mental asal Inggris, lebih dari sepertiga masyarakat berpikir orang dengan masalah kesehatan mental cenderung keras.

Faktanya, tidak ada bukti faktual atau ilmiah yang menunjukkan hubungan gangguan mental dan kekerasan.

Penembakan massal, misalnya, sangat jarang dilakukan oleh orang-orang dengan masalah kesehatan mental. Dan banyak penelitian telah menemukan kurang dari satu persen dari pembunuhan tiap tahunnya dilakukan oleh orang-orang dengan masalah kesehatan mental.

Penelitian di Swedia pada 2006 menemukan, hanya tiga dari lima persen kekerasan dilakukan oleh Orang dengan gangguan mental.

Serta penelitian Swedia pada 2018 menunjukkan orang dengan gangguan mental hampir lima kali lebih mungkin untuk dibunuh.

Justru, melansir Time, orang dengan gangguan mental jauh lebih mungkin melukai diri mereka sendiri daripada orang lain.

Terkait

Terkini