Rabu, 26 Februari 2020

Menurut Penelitian, Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Depresi

Polusi udara bisa merusak kesehatan tubuh dan mental.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi polusi udara - (Pixabay/Erdenebayar)
Ilustrasi polusi udara - (Pixabay/Erdenebayar)

Himedik.com - Ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko gangguan mental dan bunuh diri, salah satunya kondisi lingkungan. Namun, mungkin masih banyak orang yang tak sadar bahwa lingkungan memengaruhi gangguan mental, tepatnya polusi udara.

Para ilmuwan mengungkapkan bahwa lingkungan dengan tingkat polusi udara tinggi bisa menyebabkan kerusakan substansial bagi kesehatan mental manusia.

Para peneliti dari University College London pun telah meninjau sembilan studi yang menganalisis hubungan antara amisi, bunuh diri, dan depresi.

Mereka menemukan bahwa paparan polutan udara kecil yang dikenal sebagai PM2.5 dikaitkan dengan peningkatan risiko bunuh diri.

Dokter Isobel Braithwaite dari UCL Psychiatry dan UCL Institte of Health Inforatics mengatakan polusi udara buruk bagi kesehatan manusia. Ada banyak risiko kesehatan fisik, mulai dari penyakit jantung, paru-paru hingga stroke yang lebih tinggi.

"Dalam studi ini kami menunjukkan bahwa polusi udara dapat menyebabkan kerusakan besar pada kesehatan mental kita," ujarnya, dikutip dari The Sun.

Ilustrasi kesehatan jiwa, kesehatan mental (Shutterstock)
Ilustrasi kesehatan jiwa, kesehatan mental (Shutterstock)

Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bahwa PM2.5 harus disimpan di bawah sepuluh mikrogram per meter kubik. Orang-orang yang tinggal di kota-kota Inggris terpapar sekitar 12,8 mikrogram per meter kubik dari partikel rata-rata.

Para peneliti menemukan peningkatan sepuluh mikrogram per meter kubik PM2.5 dikaitkan dengan peningkatan sekitar sepuluh persen dalam peluang depresi.

Mereka memperkirakan bahwa menurunkan tingkat polusi udara rata-rata ke batas yang direkomendasikan WNO dapat mengurangi risiko depresi di antara mereka yang tinggal di kota sekitar 2,5 persen.

Temuan yang diterbitkan dalam Perspektif Kesehatan Lingkungan ini juga menunjukkan bukti hubungan antara perubahan jangka pendek pada paparan PM10 dan jumlah kasus bunuh diri.

Polusi udara di Ibukota Jakarta (Suara.com/ Peter Rotti)
Polusi udara di Ibukota Jakarta (Suara.com/ Peter Rotti)

Para ilmuwan mengatakan risiko bunuh diri lebih tinggi pada hari-hari ketika tingkat PM10 tinggi selama periode 3 hari. Namun, para peneliti mengatakan mereka belum bisa memastikan polusi udara secara langsung menyebabkan kesehatan mental.

"Ini termasuk fakta bahwa paparan polusi udara meningkatkan tingkat peradangan dalam otak, yang telah dikaitkan dengan depresi dan masalah kesehatan mental lainnya melalui dampak pada perkembangan otak dan stres produksi hormon," jelasnya lagi.

Sementara itu, dalam sebuah studi terpisah oleh Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan di Amerika Serikat, para ilmuwan menemukan PM2,5 meningkatkan risiko wanita hamil terhadap tekanan darah tinggi.

Para peneliti menemukan bahwa paparan PM2.5 dari emisi lalu lintas dikaitkan dengan perkembangan gangguan hipertensi pada wanita hamil yang bisa meningkatkan kemungkinan komplikasi preeklampsia sekitar 50 persen.

Terkait

Terkini