Selasa, 25 Februari 2020

Selain GHB, Berikut 4 Obat Bius yang Termasuk dalam 'Date Rape'

GHB adalah obat yang digunakan Reynhard Sinaga untuk membius korbannya.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Obat bius yang termasuk dalam date rape (Shutterstock)
Obat bius yang termasuk dalam date rape (Shutterstock)

Himedik.com - Reynhard Sinaga, lelaki asal Depok, Jawa Barat, yang dijuluki predator seks oleh media internasional, menggunakan gamma-hydroxybutyrate (GHB) sebagai 'senjata' untuk menyerang korbannya.

GHB atau yang lebih sering disebut sebagai 'G' ini termasuk obat depresan yang memiliki efek euforia, dapat meningkatkan gairah seks dan rasa tenang.

Tidak hanya itu, obat ini juga diketahui memiliki efek amnesia sementara pada penggunanya, lapor WebMD.

Karena efeknya itu, GHB terkadang disalahgunakan oleh beberapa orang. Inilah mengapa, menurut Alcohol.org, GHB ini juga disebut sebagai obat 'date rape' atau obat perkosaan.

Berdasarkan laman Womenshealth.gov, sebenarnya tidak hanya GHB saja yang ditermasuk dalam 'date rape'.

Obat GHB digunakan Reynhard Sinaga untuk menjerat korban. (Shutterstock)
Obat GHB digunakan Reynhard Sinaga untuk menjerat korban. (Shutterstock)

Obat perkosaan lainnya termasuk flunitrazepam (Rohypnol), gamma-butyrolactone (GBL) dan ketamin. Obat-obatan ini terkadang disebut sebagai 'club drugs' karena umum digunakan di kelab, konser, bar atau saat pesta.

Biasanya obat-obat seperti ini akan dicampur dengan minuman, misalnya alkohol. Bentuknya pun berupa bubuk, pil atau cairan yang tidak memiliki warna, bau ataupun rasa.

"Obat-obatan seperti Rohypnol, GHB, GBL, dan ketamine sangat kuat. Obat ini dapat memengaruhi Anda dengan sangat cepat. Sehingga Anda mungkin tidak tahu bahwa ada sesuatu yang salah dalam minuman tersebut," lapor Womens Health dalam lamannya.

Lama efeknya pun bervariasi, tergantung pada seberapa banyak obat yang masuk ke dalam tubuh dan apakah obat tersebut dicampur dengan obat lain atau alkohol.

"Alkohol dapat membuat efek obat-obatan semakin kuat dan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, bahkan kematian," sambung Womens Health.

Gejala yang dirasakan termasuk pusing, memiliki masalah berbicara, kesulitan mengendalikan otot, mual, muntah, degup jantung menjadi sangat lambat atau sangat cepat, ngantuk, kebingungan, kesulitan napas, hingga pingsan.

Terkait

Terkini