Selasa, 18 Februari 2020

Sinestesia Menurun secara Genetik, Studi Temukan Cara Otak Mereka Bekerja

Sinestesia, kondisi ketika seseorang dapat 'melihat' suara.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi mendengarkan musik. (pixabay)
Ilustrasi mendengarkan musik. (pixabay)

Himedik.com - Umumnya orang melihat pemandangan dan mendengarkan suara. Tapi ada beberapa orang yang justru dapat merasakan warna dan melihat suara.

Berdasarkan Live Science, di dunia hanya ada sekitar 4 persen orang yang mengalami fenomena misterius bernama sinestesia ini.

Ketika seseorang dengan sinestesia mendengar suara, mereka juga akan melihat warna dari suara tersebut, atau mereka dapat 'membaca' kata tertentu. Sudah sejak lama kondisi ini membingungkan ilmuwan, namun ada sebuah studi baru yang dinilai mungkin dapat dijadikan 'petunjuk'.

Studi yang dipublikasikan pada 5 Maret 2018 di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, menunjukkan kemungkinan yang terjadi pada otak orang dengan sinestesia.

"Ssebagai contoh, ketika orang dengan sinestesia 'mendengar' warna, pemindaian otak menunjukkan adanya aktivitas di bagian otak yang terkait dengan penglihatan dan bunyi," tutur penulis penelitian senior Simon Fisher, Ketua Institut Max Planck untuk Psikolinguistik di Belanda.

Ilustrasi sinestesia (Pixabay)
Ilustrasi sinestesia (Pixabay)

Menurut Fisher, sinestesia sering terjadi dalam sebuah keluarga atau dapat diwariskan, sehingga para peneliti memutuskan untuk mencari gen yang mungkin bertanggung jawab atas kondisi tersebut. Peneliti membandingkan gen yang memiliki sinestesia dengan yang tidak.

Sayangnya, tes ini tidak membuahkan hasil langsung, yang artinya tidak ada gen dari keluarga sinestesia yang dapat menjelaskan penyebab adanya kondisi tersebut. Ilmuwan pun melihat dari fungsi bilogis dari masing-masing gen.

"Hanya ada beberapa fungsi biologis yang diperkaya secara signifikan di seluruh kandidat yang diidentifikasi. Salah satunya adalah axonogenesis, proses penting yang membantu neuron terhubung satu sama lain di otak yang sedang berkembang," jelas Fisher.

Axogenesis ini mengacu pada perkembangan neuron. Ternyata, gen juga memainkan peran dalam bagaimana neuron di dalam otak terhubung, menjelaskan mengapa otak orang dengan sinestesia ditransfer secara berbeda.

Penelitian selanjutnya akan mencari pemahaman bagaimana variasi gen tertentu mengubah struktur dan fungsi otak.

"Memperlajari sinestesia pada dasarnya dapat memberikan pengetahuan bagaimana otak manuia pada umumnya menciptakan representasi sensorik dari dunia luar," tandas Fisher.

Terkait

Terkini