Selasa, 25 Februari 2020

Peneliti Temukan Cara Baru Matikan Sel Kanker dengan Sel Sistem Imun!

Ilmuwan mengatakan, meski pekerjaannya masih tahap awal, penemuan ini sangat menarik.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi sel T sistem kekebalan tubuh (Pixabay)
Ilustrasi sel T sistem kekebalan tubuh (Pixabay)

Himedik.com - Ilmuwan dari Cardiff University menemukan metode baru untuk membunuh semua jenis sel kanker dalam sebuah penelitian laboratorium.

Temuan ini dipublikasikan dalam Nature Immunology. Meski belum diuji pada pasien, peneliti mengatakan temuan ini memiliki potensi yang sangat besar.

Mereka juga mengatakan, meski pekerjaannya masih tahap awal, penemuan ini sangat menarik.

Hal yang mereka temukan adalah sel T di dalam darah manusia. Ini adalah sel kekebalan tubuh  (sistem imun) yang dapat memindai tubuh untuk menilai apakah ada ancaman (seperti virus atau sel abnormal) yang perlu disingkirkan.

Perbedaannya, sel ini dinilai dapat menyerang berbagai jenis kanker.

Ilustrasi sel kanker. (Shutterstock)
Ilustrasi sel kanker. (Shutterstock)

"Ini meningkatkan prospek perawatan kanker 'satu ukuran untuk semua', satu jenis sel T yang dapat menghancurkan berbagai jenis kanker," kata peneliti, Profesor Andrew Sewell pada BBC.

Diketahui, sel T ini memiliki reseptor di permukaannya yang memungkinkan mereka mendeteksi pada tingkat kimia. Menurut peneliti, keduanya ini dapat menemukan dan membunuh berbagai jenis sel kanker di laboratorium.

Jadi, sel T dan reseptornya membuat jaringan normal tidak tersentuh.

Lalu, bagaimana cara kerja sel ini pada pasien?

Idenya adalah mengambil sampel darah dari pasien kanker. Sel T ini akan diekstraksi dan kemudian dimodifikasi secara genetis sehingga mereka dapat diprogram ulang untuk membuat reseptor yang akan menemukan sel kanker.

Sel-sel modifikasi ini akan tumbuh dalam jumlah besar di laboratorium dan kemudian disuntikkan lagi ke pasien.

Namun, pengujian penelitian ini baru pada hewan dan sel di laboratorium dan pemeriksaan keamanan lebih lanjut diperlukan sebelum uji coba dilakukan pada manusia.

Terkait

Terkini