cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Rabu, 23 September 2020

Pasien Suspect Corona di Jogja Meninggal, Diagnosis Pneumonia Bakterial

Hasil pemeriksaan dahak maupun darah, dokter menemukan adanya klebsiella pneumoniae.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi dirawat di rumah sakit (Unplash/rawpixel)
Ilustrasi dirawat di rumah sakit (Unplash/rawpixel)

Himedik.com - Satu pasien yang sebelumnya diduga terinfeksi virus corona dan diisolasi di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (5/3/2020) kemarin, sekitar pukul 11.30 WIB.

Namun, menurut Direktur Utama Dr Sardjito, Rukmono Siswishanto, diagnosis pasien bersangkutan bukan karena Covid-19, melainkan mengarah ke pneumonia bakterial.

"Pasien tersebut dites dengan dua uji, uji MERS-CoV dan COVID-19," katanya pada Jumat (6/3/2020) kemarin di RSUP Dr. Sardjito.

Hasil pemeriksaan dahak maupun darah, dokter menemukan adanya klebsiella pneumoniae. Pemeriksaan darah pun diketahui ada masalah medis.

Selain disebabkan oleh virus, pneumonia juga bisa terjadi karena bakteri. Nah, ternyata pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dinilai lebih parah daripada pneumonia virus.

RSUP Dr Sardjito Yogyakarta - (SUARA/Baktora)
RSUP Dr Sardjito Yogyakarta - (SUARA/Baktora)

Berdasarkan sebuah studi, yang dilansir Live Science, pasien dengan pneumonia akibat bakteri mempunyai risiko lebih tinggi terkena serangan jantung, stroke, hingga kematian.

Studi yang dipresentasikan pada American Heart Association's Scientific Sessions pada 11 November 2018 lalu, menunjukkan 34% dari pasien yang diteliti (4800 pasien) mempunyai komplikasi jantung uatama dalam 90 hari masa penelitian, dibandingkan dengan 26% pasien yang didiagnosis dengan pneumonia virus.

Perbedaan ini, menurut penulis senior Dr. Joseph Brent Muhlestein, ahli jantung di Intermountain Heart institute di Utah, kemungkinan besar karena pneumonia bakteri menyebabkan lebih banyak peradangan di arteri yang merupakan faktor risiko penyakit jantung.

Bakteri dan virus menginfeksi tubuh dengan berbagai cara. Virus masuk ke dalam sel dan menyebabkan kerusakan, sedangkan bakteri tetap berada di luar sel dan melepaskan racun ke dalam aliran darah.

Ilustrasi pneumonia [shutterstock]
Ilustrasi pneumonia [shutterstock]

Bakteri ini kemudian menyebabkan lebih banyak peradangan di dalam darah yang pada akhirnya memicu kerusakan pada lapisan arteri.

Di sisi lain, pasien dari RSUP Dr Sardjito tersebut juga punya riwayat penyakit Hipokalemia (kekurangan kalium).

Namun, kematian diduga karena sudden cardiac death yaitu kematian mendadak karena proses jantung lantaran terjadi sangat cepat.

"Kondisinya memang mendadak. Dengan waktu yang begitu cepat dia henti napas. Kalau dari analisa kami, kematian diakibatkan karena jantung," papar Dokter Spesialis Paru RSUP Dr Sardjito, Munawar Gani. 

Catatan Redaksi: Jika Anda merasakan gejala batuk-batuk, demam, dan lainnya serta ingin mengetahui informasi yang benar soal virus corona Covid-19, sila hubungi Hotline Kemenkes 021-5210411 atau kontak ke nomor 081212123119.

Terkait

Terkini