Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Rabu, 27 Mei 2020

Lebih Mudah, Pakar Kembangkan Obat Two-In-One untuk Penderita Diabates!

Obat ini mengandung dua hormon yang dapat menstabilkan kadar gula darah.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi diabetes. (Arkadia Digital Media/Ema Rohimah)
Ilustrasi diabetes. (Arkadia Digital Media/Ema Rohimah)

Himedik.com - Kabar bahagia untuk penderita diabetes! Tim peneliti dari Standford telah mengembangkan obat suntik two-in-one yang dapat membantu pasien diabetes mengendalikan gula darah mereka dengan lebih baik.

Dilansir dari The Health Site, suntikan ini mengandung kombinasi insulin dan obat yang didasarkan pada hormon kedua, amylin. Hormon ini memainkan peran sinergis dengan insulin untuk mengontrol gula darah setelah makan.

Obat berbasis amylin sendiri memang sudah tersedia secara komersial.

Tetapi diperkirakan hanya sedikit penderita diabetes yang melakukan terapi insulin (kurang dari 1%) yang juga menggunakan pengobatan komplementer ini (obat berbasis amylin).

Sebab, baik insulin dan amylin, terlalu tidak stabil jika digunakan secara terpisah namun bersamaan.

Seorang perempuan menyuntikkan obat diabetes. [shutterstock]
Ilustrasi menyuntikkan insulin [shutterstock]

Menggunakan obat amylin dengan suntikan insulin adalah penghalang bagi sebagian pasien, kata pemimpin penelitian di Stanford, Eric Appel.

Sehingga, teknik baru mereka ini, yaitu obat two-in-one, akan memungkinkan kedua hormon diberikan secara bersamaan dalam satu injeksi atau dalam pompa insulin.

Melibatkan lapisan pelindung yang membungkus molekul insulin dan amylin, untuk pertama kalinya teknik ini memungkinkan kedua hormon untuk 'hidup berdampingan' dalam satu suntikan.

Appel menjelaskan, lapisan pelindung ini akan larut dalam aliran darah, memungkinkan hormon untuk bekerja sama dengan cara meniru cara kerja hormon pada orang sehat.

Para peneliti telah menguji stabilitas obatnya di laboratorium, mereka selanjutnya akan menguji apakah teknik ini tidak beracun sebelum memulai uji coba pada manusia.

Makalah penelitian ini terbit di Nature Biomedical Engineering pada Senin (11/5/2020) kemarin.

Terkait

Terkini