cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Minggu, 20 September 2020

Studi Temukan Penderita Darah Tinggi Bisa Menjadi 'Buta-Emosi'

Apa maksud dari 'buta-emosi' itu?

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
tekanan darah tinggi (unsplash)
tekanan darah tinggi (unsplash)

Himedik.com - Menurut sebuah studi, orang dengan tekanan darah tinggi memiliki kesulitan dalam mengidentifikasi isyarat emosional daripada orang lain dengan tekanan darah normal.

Para peneliti melaporkan bahwa orang dengan tekanan darah tinggi kurang reaktif ketika ditunjukkan foto dan teks yang dimaksudkan untuk memicu emosi, termasuk ketakuran, kemarahan dan kebahagiaan.

Respon yang melemah ini bisa disebut 'peredam emosi' atau 'buta-emosi', kata James McCubbin, seorang profesor psikologi di Clemson University di South Carolina, yang memimpin penelitian.

"Ketika kita mengirim pesan dan mencoba membuat lelucon, kita perlu menggunakan wajah tersenyum untuk memberi tahu pembaca itu lelucon sehingga mereka tidak salah mengartikannya," kata McCubbin, menjelaskan bagaimana orang mencoba mengelola respon emosional orang lain kepada Live Science.

"Namun, orang dengan 'peredam emosi' mungkin mengalami kesulitan mengenali emosi," sambungnya.

Ilustrasi hipertensi (Shutterstock)
Ilustrasi hipertensi (Shutterstock)

Misalnya, di tempat kerja mereka (penderita hipertensi) mungkin berpikir bos mereka sedang bercanda ketika sebenarnya sedang marah.

Penelitian sebelumnya mengaitkan tekanan darah tinggi dengan penurunan kemampuan untuk merasakan emosi negatif. Studi baru ini menambahkan bahwa adanya persepsi emosi positif yang berkurang.

Tekanan darah tinggi juga telah terbukti mengurangi sensivitas seseorang terhadap rasa sakit.

Tekanan darah dan emosi

Penelitian McCubbin ini didasarkan pada data yang dikumpulkan dari 2000 hingga 2002. Sebagai bagian studi percontohan yang disebut HANDLS (Healthy Aging in Nationally Diverse Longitudinal Samples).

McCubbin dan rekannya mengukur tekanan darah dan respons emosional dari 106 orang Afrika-Amerika yang memiliki status sosial ekonomi rendah di Baltimore.

Peneliti mengukur tekanan darah para partisipan dan meminta mereka untuk mengaitkan emosi tertentu dengan kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, kemarahan, jijik, kejutan, atau tanpa emosi dengan kalimat dan foto wajah.

Sebagai contoh, kalimat berikut dimaksudkan untuk menimbulkan kemarahan, "Memastikan bahwa para pemainnya tidak melakukan kesalahan, seorang pelatih menuntut penjelasan dari wasit tentang panggilan penalti."

Orang dengan tekanan darah tinggi mengalami lebih banyak kesulitan membedakan emosi seperti itu, terlepas dari pendidikan, usia dan faktor lainnya.

"Kami percaya bahwa ada hubungan antara kontrol tekanan darah dan penilaian rangsangan sistem saraf pusat, seperti ancaman di lingkungan," kata McCubbin.

Terkait

Terkini