Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Senin, 06 Juli 2020

Studi: Penggunaan Hidroksiklorokuin & Klorokuin Tingkatkan Risiko Kematian

Penggunaan hidroksiklorokuin dan klorokuin untuk Covid-19 kembali menunjukkan hasil yang tidak efektif.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi obat-obatan - (Pixabay/PublicDomainPictures)
Ilustrasi obat-obatan - (Pixabay/PublicDomainPictures)

Himedik.com - Sebuah studi terhadap pasien Covid-19 yang diberi obat hidroksiklorokuin serta klorokuin menunjukkan adanya peningkatan risiko kematian. 

Temuan ini, yang terbit dalam jurnal The Lancet pada Jumat (22/5/2020), berfokus pada eksplorasi penggunaan hidroksiklorokuin atau klorokuin, baik secara tunggal maupun kombinasi dengan antibiotik makrolid generasi kedua, kemanan serta manfaatnya pada pasien Covid-19.

Sementara obat tersebut diresepkan untuk mengobati malaria atau penyakit autoimun seperti lupus, masih ada sedikit bukti tentang efek potensialnya terhadap pasien terinfeksi virus corona.

Analisis ini mencakup data dari 671 rumah sakit di enam benua, dengan total 96.032 pasien positif Covid-19 dan dirawat di rumah sakit antara Desember 2019 hingga April 2020.

Ilustrasi hidroksiklorokuin (Freepik)
Ilustrasi hidroksiklorokuin (Freepik)

Sejumlah 1.868 pasien menerima klorokuin, 3.783 menerima klorokuin dengan makrolid, 3.016 menerima hidroksiklorokuin, dan 6.221 menerima hidroksiklorokuin dengan makrolid. Sebanyak 81.144 pasien lainnya sebagai kelompok kontrol.

Peneliti menemukan, penggunaan hidroksiklorokuin, hidroksiklorokuin dengan makrolid, klorokuin, serta klorokuin dengan makrolid, berkaitan dengan peningkatan risiko aritmia ventrikel selama dirawat di rumah sakit. Ini dibandingkan dengan faktor kematian pada kelompok kontrol.

Selanjutnya, peneliti menyimpulkan mereka tidak dapat mengonfirmasi adanya manfaat pada penggunaan obat-obat tersebut pada pasien.

Avigan dan Klorokuin disebut efektif mengobati pasien yang terinfeksi virus corona atau Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi klorokuin dan obat lainnya untuk Covid-19. (Shutterstock)

"Masing-masing rejimen obat dikaitkan dengan penurunan kelangsungan hidup di rumah sakit dan peningkatan frekuensi aritmia ventrikel bila digunakan untuk pengobatan Covid-19," catat peneliti, dikutip CNBC.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pun satu bulan yang lalu memperingatkan penggunaan obat anti-malaria tersebut di luar rumah sakit, setelah merima laporan adanya efek masalah irama jantung serius atau aritmia.

Terkait

Terkini