cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Jum'at, 07 Agustus 2020

Virus Pengaruhi Otak, Pasien Covid-19 Bisa Mengalami Perubahan Mental

Pasien Covid-19 bisa mengalami perubahan sikap dan mental tertentu karena pengaruh pada otak.

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
cloud_download Baca offline
Virus corona bisa sebabkan perubahan kesehatan mental. (unsplash)
Virus corona bisa sebabkan perubahan kesehatan mental. (unsplash)

Himedik.com - Pasien Covid-19 bisa mengalami perubahan sikap dan mental tertentu. Kemungkinan kondisi tersebut telah diperingatkan oleh direktur senior NHS, Profesor Tim Kendall.

Para ahli mengungkapkan virus corona dapat menginfeksi otak dan menyebabkan kondisi kejiwaan yang berlangsung lebih dari satu dekade.

Dilansir dari Independent, Profesor Tim Kendall, direktur klinis nasional NHS Inggris untuk kesehatan mental, mengatakan bahwa tidak ada keraguan bahwa anak-anak mengalami dampak keras dari wabah virus corona.

Profesor Ed Bullmore, seorang ahli saraf di Universitas Cambridge, mengatakan ada cukup bukti untuk menggambarkan virus Sars-CoV-2 sebagai penyebab penyakit neurotoksik dan mengatakan ada kemungkinan efek kejiwaan dapat bertahan lebih dari satu dekade.

Dia mengatakan penelitian telah menunjukkan bahwa sejumlah pasien Covid-19 mengalami semacam kondisi mental yang berubah.

"Ini termasuk kasus gangguan mood psikosis dan gangguan kognitif," kaya Bullmore.

"Kami tidak tahu pasti penyebab neurotoksisitas itu. Bisa jadi virus itu menginfeksi otak, bisa jadi respon imun terhadap virus merusak otak, atau bisa juga suplai darah ke otak. Semua mekanisme itu tampak masuk akal saat ini," tambahnya.

Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)
Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)

Dia mengatakan data dari infeksi virus corona Sars dan Mers sebelumnya menunjukkan potensi kerusakan jangka panjang.

"Ketika Anda melihat jenis sekuel psikiatrik jangka panjang dari epidemi tersebut, itu cukup parah," kata Kendall.

"Hingga 12 tahun masa tindak lanjut setelah penyakit akut. Mereka menemukan frekuensi gangguan stres pasca-trauma yang cukup tinggi, depresi, kecemasan, insomnia dan gangguan kognitif ringan," kata dia.

"Ini adalah penyakit yang harus kita perhatikan dengan sangat serius dari sudut pandang psikiatris dan neurologis, tidak hanya saat ini, tetapi mungkin selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun mendatang,” tambahnya.

Terkait

Terkini