cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Kamis, 16 Juli 2020

Obat Anti-malaria Digabungkan dengan Pengobatan Kanker Otak, Efektifkah?

Obat anti-malaria yang dipakai adalah lumefantrine.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi obat. (Pixabay)
Ilustrasi obat. (Pixabay)

Himedik.com - Jenis kanker otak glioblastoma multiforme (GBM) merupakan bentuk kanker yang sangat agresif serta sulit diobati. Terapi yang saat ini tersedia membuat tingkat kelangsungan hidup penderita selama 5 tahun sebanyak 5,6%. Sayangnya, dokter belum memiliki cara untuk mencegah kekambuhan penyakit ini.

Namun ada harapan baru. Sebuah penelitian menemukan lumefantrine, obat yang disetujui BPOM AS (Food and Drugs Administration atau FDA) untuk mengobati malaria, dapat meningkatkan efektivitas obat utama yag digunakan untuk mengobati GBM.

Peneliti utama studi ini, Prof. Paul Fisher, ketua Virginia Commonwealth University’s Department of Human and Molecular Genetics, menjelaskan timnya telah menyelidiki apakah obat-obatan yang disetujui dapat membantu melemahkan resistensi GBM terhadap kemoterapi.

"Studi kami menemukan aplikasi potensial baru dari obat antimalaria sebagai terapi yang mungkin untuk (GBM) yang resisten terhadap standar perawatan, melibatkan radiasi dan temozolomide," tuturnya, dikutip dari Medical News Today.

Ilustrasi kanker otak (Pixabay/VSRao)
Ilustrasi kanker otak (Pixabay/VSRao)

Temuan ini muncul dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America.

Mengatasi GBM yang resistan

Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. Gabungan ini dapat sedikit memperpanjang harapan hidup orang dengan GBM, tetapi penyakit ini seringnya menjadi resisten terhadap pengobatan.

Para peneliti menemukan menambahkan lumefantrine ke dalam perawatan in vitro sel glioblastoma dengan radiasi dan temozolomide membunuh sel kanker dan menekan pertumbuhan baru mereka.

Selain itu, cara ini juga memiliki efek serupa pada sel glioblastoma yang seharusnya resisten terhadap pengobatan, serta bagi pasien yang sensitif terhadapnya.

Eksperimen in vivo semakin menegaskan efeknya. Para peneliti mentransplantasikan GBM manusia ke otak tikus dan, sekali lagi, kombinasi radiasi, temozolomide, dan lumefantrine terbukti berhasil membunuh sel glioblastoma yang sensitif dan resisten, serta menekan pertumbuhan lebih lanjut.

Terkait

Terkini