cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Rabu, 12 Agustus 2020

Usai Pandemi Covid-19, Sindrom Kelelahan Kronis Bisa Jadi Masalah Baru

Ahli memperingatkan bahwa tenaga medis akan kembali menghadapi masalah baru pasca pandemi.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi kelelahan. (Pixabay/geralt)
Ilustrasi kelelahan. (Pixabay/geralt)

Himedik.com - Setelah pandemi Covid-19, dokter telah memeringatkan ada gelombang masalah kesehatan baru pada pasien yang pulih. Salah satunya, mereka mungkin akan mengalami gejala sindrom kelelahan kronis.

Sebelumnya, NHS telah berada di bawah tekanan besar karena pandemi virus corona Covid-19. Lalu, sekarang para ahli memperingatkan bahwa tenaga medis akan kembali menghadapi masalah baru pasca pandemi.

Paul Garner, pakar penyakit menular di Sekolah Kedokteran Tropis Liverpool, mengatakan dirinya masih merasa kelelahan selama 14 minggu setelah bertugas melawan virus corona Covid-19.

Melalui British Medical Journal (BMJ), Paul Graner mengatakan dirinya tidak bisa bangun dari tempat tidur selama lebih dari 3 jam dan mengalami telinga berdenging.

"Gelombang baru setelah pandemi sedang menghantam layanan kesehatan. Tapi, Inggirs tidak masuk dalam agenda nasional," kata Paul Garner dikutip dari The Sun.

Ilustrasi kelelahan (shutterstock)
Ilustrasi kelelahan (shutterstock)

Paul Garner juga menulis sebuah artikel pada bulan Mei 2020, yang mana membicarakan kelelahan kronis pasca pandemi virus corona Covid-19. Bahkan ia merasa gejalanya berkelanjutan.

"Sekarang di minggu ke-14, gejala yang saya alami telah berkembang. Gejala ini membuat kebingungan dan sakit kepala parah," kata Paul.

Saat Paul mencoba memeriksakan kondisinya, tim medis mengatakan Paul mengalami kelelahan kronis pasca pandemi virus corona Covid-19.

Tapi, orang dengan kondisi ini sesungguhnya tidak memerlukan ekokardiogram atau CT scan. Paul Garner merekomendasikan istirahat dengan baik.

Kemudian, gejala yang dialami Paul Garner pun diketahui mirip dengan myalgic encephalomyelitis (ME) atau sindrom kelelahan kronis.

"Asosiasi ME menghadapi peningkatan jumlah orang yang gagal untuk pulih dari virus corona Covid-19 dan menderita kelelahan yang melemahkan," kata Dr Charles Shepherd, penasihat medis di Asosiasi ME.

Sebagian besar orang dengan kondisi ini mengelola kelelahan kronisnya sendiri di rumah ketika terinfeksi virus corona Covid-19.

Beberapa orang juga mengembangkan sindrom kelelahan kronis setelah pandemi virus corona Covid-19, yang gejalanya juga terlihat pada orang dengan ME.

Ilustrasi kelelahan. [Shutterstock]
Ilustrasi kelelahan. [Shutterstock]

Paul juga menabahkan bahwa lembaga kesehatan juga mengatakan orang-orang yang sakit selama 3 hingga 4 bulan, kini sedang mengalami sindrom kelelahan kronis.

Data menunjukkan bahwa sekitar 80 persen kasus ME dipicu oleh respons abnormal terhadap virus corona Covid-19.

Sindrom kelelahan kronis atau ME adalah penyakit jangka panjang dengan berbagai gejala. Adapun gejala yang paling umum adalah kelelahan ekstrem.

Kondisi ini bisa memengaruhi siapa pun, termasuk anak-anak. Tapi, kelelahan kronis lebih sering terjadi pada wanita dan cenderung berkembang di antara usia 20 dan 40 tahunan.

Selain kelelahan ekstrem, gejala sindrom kelelahan kronis juga termasuk masalah tidur, nyeri otot atau sendi, sakit kepala, sakit tenggorokan, masalah berpikir hingga gejala mirip flu.

Terkait

Terkini