cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Minggu, 09 Agustus 2020

Ada 4 Tahap, Begini Cara Obat Dicerna Tubuh

Tahap-tahap itu disebut ADME.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi obat. (Pixabay)
Ilustrasi obat. (Pixabay)

Himedik.com - Farmakologi merupakan bidang kesehatan yang mempelajari bagaimana tubuh bereaksi terhadap obat-obatan. Bagian dari farmakologi yang berkaitan dengan pemahaman 'siklus kehidupan' obat di dalam tubuh adalah farmakokinetik.

Mengetahui tentang masing-masing dari empat tahap utama farmakokinetik, yang disebut ADME, membantu mengambangkan obat-obatan yang lebih efektif dan menghasilkan lebih sedikit efek samping dalam tubuh.

Dilansir Live Science, berikut cara obat bekerja di dalam tubuh:

1. Absorpsi atau Penyerapan

Obat diserap ketika melakukan perjalanan dari mulut, tenggorokan, ke sirkulasi tubuh.

Beberapa cara umum mengonsumsi obat adalah secara oral (menelan obat), intramuskuler (obat disuntikan di lengan), subkutan (disuntikkan di bawah kulit), intravena (menerima obat melalui vena) ) atau transdermal (mengenakan patch kulit).

Obat yang dikonsumsi dikirim melalui pembuluh darah khusus yang mengarah dari saluran pencernaan ke hati, di mana obat dipecah. Kemudian dari hati, memasuki aliran darah secara langsung atau melalui kulit atau paru-paru.

Ilustrasi obat-obatan [shutterstock]
Ilustrasi obat-obatan [shutterstock]

2. Distribusi

Paling sering, aliran darah adalah 'kendaraan' untuk membawa obat-obatan ke seluruh tubuh. Pada tahap ini, efek samping dapat terjadi, saat obat berefek di tempat lain selain anggota tubuh yang ditargetkan.

Misalnya, untuk pereda nyeri, organ yang ditargetkan mungkin otot yang sakit di kaki. Efek sampingnya, iritasi lambung bisa terjadi.

Berbeda dengan obat untuk sistem saraf pusat, harus menghadapi pertahanan yang hampir tidak bisa ditembus, disebut penghalang darah-otak. Ini melindungi otak dari zat-zat berbahaya seperti racun atau virus.

Faktor lain yang mampu memengaruhi distribusi adalah molekul protein dan lemak dalam darah, dapat membuat molekul obat tidak berfungsi dengan cara mengikatnya.

3. Metabolisme

Segala sesuatu yang memasuki aliran darah, baik ditelan, disuntikkan, dihirup atau diserap melalui kulit, dibawa ke hati.

Di sini, zat-zat secara kimiawi diolah dan diubah oleh protein yang disebut enzim. Banyak produk dari penguraian enzimatik, atau metabolit, kurang aktif secara kimia daripada molekul asli.

Perbedaan genetik dapat mengubah cara kerja enzim tertentu, juga memengaruhi kemampuan tubuh memetabolisme obat.

Produk dan makanan herbal, yang mengandung banyak komponen aktif, dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memetabolisme obat lain.

Ilustrasi obat (Shutterstock)
Ilustrasi obat (Shutterstock)

4. Pengeluaran atau Ekskresi

Obat yang sekarang tidak aktif menjalani tahap akhir dari waktu dalam tubuh, ekskresi. Proses ini terjadi melalui urin atau feses.

Dengan mengukur jumlah obat dalam urin (dan dalam darah), farmakolog klinis dapat menghitung bagaimana seseorang memproses suatu obat, mungkin mengakibatkan perubahan pada dosis atau bahkan obat yang harus dikonsumsi.

Contohnya, jika obat yang sedang dikonsumsi relatif cepat dikeluarkan tubuh, dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan.

Terkait

Terkini