cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Minggu, 09 Agustus 2020

Pakar Kesehatan Inggris Kecam Perilaku AS yang Memborong Obat Covid-19

Amerika Serikat dikabarkan telah memborong pasokan remdesivir dari produsen langsung.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi pasien Covid-19. [Shutterstock].
Ilustrasi pasien Covid-19. [Shutterstock].

Himedik.com - Banyak pakar kesehatan mengecam perilaku Amerika Serikat yang memonopoli nyaris seluruh pasokan global antivirus remdesivir, satu-satunya obat untuk terapi Covid-19 yang berlisensi.

Mereka memperingatkan jenis perilaku mementingkan diri sendiri dapat memicu kelangkaan di tengah pandemi global seperti sekarang ini.

Pada Selasa (30/6/2020) kemarin, Presiden Donald Trump telah melakukan kesepakatan untuk membeli obat yang diproduksi oleh Gilead Sciences ini hanya untuk rakyatnya.

Dilansir TIME, Department of Health and Human Services (HHS) mengatakan Trump telah mendapatkan 500.000 stok obat sampai September, mewakili 100% kapasitas produksi pada Juli dan 90% dari kapasitas untuk Agustus dan September.

"Ini jelas menandakan keengganan untuk bekerja sama dengan negara lain dan berdampak terhadap perjanjian internasional tentang hak kekayaan intelektual," kata Ohid Yaqub, seorang dosen senior di Universitas Sussex, Inggris.

Ilustrasi obat. (Pixabay)
Ilustrasi obat. (Pixabay)

Menurut Peter Horby, peneliti menjalankan uji coba klinis besas terhadap beberapa perawatan untuk Covid-19. Kerangka kerja diperlukan untuk memastikan harga yang adil dan akses obat-obatan untuk masyarakat di seluruh dunia.

Dia mengatakan, sebagai perusahaan Amerika, kemungkinan Gilead berada di bawah tekanan politik tertentu.

Thomas Senderovitz, kepala Badan Obat Denmark, mengatakan langkah itu dapat membahayakan banyak orang.

"Aku belum pernah melihat yang seperti itu. Bahwa perusahaan memilih untuk menjual saham mereka hanya ke satu negara. Ini sangat aneh dan sangat tidak pantas," ujar Senderovitz.

Terkait

Terkini