cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Rabu, 12 Agustus 2020

Temuan Baru, Suhu Rendah Musim Dingin Picu Gelombang Kedua Virus Corona

Para ilmuwan menemukan keterkaitan antara jumlah kasus virus corona Covid-19 suatu wilayah dengan suhu rata-rata daerah setempat.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi virus corona. (Shutterstock)
Ilustrasi virus corona. (Shutterstock)

Himedik.com - Pandemi virus corona Covid-19 belum selesai dan beberapa orang telah beraktivitas normal. Kondisi itu pun dikhawatirkan bisa memicu gelombang kedua virus corona Covid-19.

Para ahli pun telah mengungkapkan bahwa suhu rendah di musim dingin akan memicu gelombang kedua virus corona Covid-19 di negara-negara tertentu.

Para ilmuwan mencari tahu hubungan antara besarnya jumlah kasus virus corona Covid-19 dengan suhu rata-rata suatu wilayah.

Para ahli yang berbasis di India pun menemukan bahwa negara dengan suhu lebih dingin mengalami wabah virus corona yang lebih parah.

Evaluasi ini terjadi beberapa minggu setelah para ilmuwan pemerintah terkemuka di Inggris mengklaim bahwa musim bisa bisa memicu gelombang kedus virus corona mematikan.

Sir Patrick Vallance telah mengatakan bahwa ada peluang yang masuk akan bahwa virus akan memiliki keuntungan untuk bertahan hidup di musim dingin.

Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Chandi Mandal, ahli biokimia dari Universitas Sentral Rajasthan dan Mahaveer Singh Panwar dari Universitas Hindu Banaras mengatakan kini negara di belahan bumi Utara bisa mengalami kesulitan ketika melalui musim panas.

"Jika suhu rendah merupakan faktor risiko untuk virus corona Covid-19, maka musim panas bisa mengurangi tingkat penularan dan infeksi," jelas Mandal dan Panwar dikutip dari The Sun.

Prof Mandal dan Prof Panwar pun mengumpulkan data dari akhir Maret hingga pertengahan April 2020. Mereka menemukan bahwa negara-negara di lintang yang lebih tinggi dan iklim lebih dingin cenderung memiliki beban kasus yang lebih tinggi.

Karena, negara-negara dengan garis lintang yang lebih hangat dan lebih rendah juga melaporkan lebih sedikit kasus virus corona Covid-19.

Lintang rendah belahan bumi selatan yaitu wilayah bumi yang berada di selatan garis khatulistiwa. Adapun negara yang jatuh di belahan bumi utara dan bisa mengalami gelombang kedua karena suhu rendah, termasuk Rusia, Kanada dan China.

Para ahli dalam Journal of Public mengatakan mereka tidak bisa sepenuhnya menjelaskan terjadinya kondisi tersebut. Semua pengamatan ahi ini menunjukkan bahwa suhu rendah mungkin menjadi faktor risiko untuk kasus virus corona Covid-19.

Tapi, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan yang menyertai. Penelitian lain sebelumnya telah melihat kurangnya sinar matahari sebagai penyebab negara tertentu terdampak virus corona lebih buruk.

Terkait

Terkini