cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Jum'at, 07 Agustus 2020

Pandemi Virus Corona disebut Bisa Memicu Gelombang Kerusakan Otak

Pandemi virus corona baru dapat menyebabkan gelombang kerusakan otak pada pasien yang terinfeksi.

Rendy Adrikni Sadikin | Fita Nofiana
cloud_download Baca offline
Ilustrasi penyebaran Covid-19. (Pixabay/Mohamed Hassan)
Ilustrasi penyebaran Covid-19. (Pixabay/Mohamed Hassan)

Himedik.com - Sebuah studi menunjukkan bahwa pandemi virus corona bisa menyebabkan naiknya gelombang kerusakan otak. Hal tersebut dilaporkan oleh para peneliti Inggris dalam sebuah studi baru yang dirilis Rabu (8/7/2020) kemarin.

Dilansir dari CNN, para ahli di University College London (UCL) menggambarkan bahwa Covid-19 dapat menyebabkan komplikasi neurologis termasuk stroke, kerusakan saraf, dan radang otak yang berpotensi fatal.

Komplikasi tersebut bahkan bisa muncul saat pasien tidak menunjukkan gejala pernapasan parah yang terkait dengan penyakit ini.

"Kita harus waspada dan melihat komplikasi ini pada orang yang pernah mengalami Covid-19," kata penulis senior penelitian, Dr. Michael Zandi dalam siaran pers UCL.

Ia memperingatkan bahwa masih harus dilihat apakah terjadi pada skala besar kerusakan otak yang terkait dengan pandemi.

"Studi tindak lanjut akan diperlukan untuk memahami potensi konsekuensi neurologis jangka panjang dari pandemi," catat para peneliti. 

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Brain tersebut memeriksa 43 pasien yang dirawat di University College London Hospitals yang dikonfirmasi atau dicurigai terinfeksi Covid-19 sejak April hingga Mei. 

Usia mereka bervariasi berkisar antara 16-85 tahun dan menunjukkan berbagai gejala ringan hingga parah.

Di antara pasien ini, para peneliti menemukan 10 kasus disfungsi otak sementara dan delirium, 12 kasus peradangan otak, delapan kasus stroke, dan delapan kasus kerusakan saraf.

Sebagian besar pasien yang menunjukkan peradangan otak didiagnosis dengan kondisi spesifik, langka, dan kadang-kadang mematikan yang dikenal sebagai ensefalomielitis akut disebarluaskan (ADEM). 

Ilustrasi pasien menggunakan alat bantu pernapasan. (Shutterstock)
Ilustrasi pasien menggunakan alat bantu pernapasan. (Shutterstock)

Sebelum pandemi, tim peneliti di London melihat sekitar satu pasien ADEM per bulan. Selama pandemi, jumlahnya naik menjadi setidaknya satu orang menderia ADEM per minggu.

Para peneliti masih mencoba mencari tahu mengapa pasien Covid-19 mengalami komplikasi otak. Virus yang menyebabkan Covid-19 tidak ditemukan dalam cairan otak mereka yang berarti virus itu tidak langsung menyerang otak. 

Satu teori menyatakan, bahwa komplikasi secara tidak langsung dipicu oleh respon imun dari tubuh pasien, bukan dari virus itu sendiri. Temuan ini penting untuk menginformasikan bagaimana dokter di seluruh dunia memantau dan merawat pasien. 

"Mengingat penyakit ini baru ada selama beberapa bulan, kita mungkin belum tahu kerusakan jangka panjang apa yang bisa disebabkan Covid-19," kata penulis penelitian Dr. Ross Paterson dalam siaran pers.

Terkait

Terkini