cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Sabtu, 19 September 2020

Bongkar Fakta, Ilmuwan Sebut Covid-19 Buatan Laboratorium Militer di China

Seorang ilmuwan berusaha mengungkap bahwa virus corona Covid-19 adalah buatan dari laboratorium militer di China.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi masker dan virus corona. (Pixabay)
Ilustrasi masker dan virus corona. (Pixabay)

Himedik.com - Pandemi virus corona Covid-19 diketahui berasal dari pasar basah Wuhan, China. Tapi, seorang ilmuwan dari Hong Kong yang melarikan diri berusaha mengungkap fakta asal muasalnya.

Dr Li-Meng Yan, seorang spesialis virologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong ini melarikan diri ke Amerika Serikat karena sejumlah alasan. Salah satunya ia tak bisa bebas mengungkap informasi mengenai virus corona Covid-19 tersebut.

Dr Li-Meng Yan menjelaskan bahwa virus corona Covid-19 diciptakan di laboratorium yang terhubung dengan Tentara Pembebasan Rakyat. Namun, Beijing membantah tuduhan tersebut.

"Pada waktu itu, saya dengan jelas menilai bahwa virus itu berasal dari laboratorium militer Partai Komunis China. Sedangkan, pasar basah Wuhan hanya digunakan sebagai umpan," kata Dr Li-Meng Yan dikutip dari Express.

Saat ia berusaha melaporkan informasi tersebut, atasan mengatakan bahwa temuannya tidak masuk akal, tidak dianggap serius dan dibiarkan.

Ilustrasi seorang lelaki di laboratorium. [Shutterstock]
Ilustrasi seorang lelaki di laboratorium. [Shutterstock]

Pada titik itu, ia mengklaim bahwa  mustahil baginya untuk melaporkan dan mengungkapkan penemuannya itu ke tingkat tinggi Partai Komunis. 

"Saya tahu bahwa begitu saya berbicara, saya bisa menghilang kapan saja, sama seperti semua orang yang berani protes di Hong Kong. Aku bisa menghilang kapan saja. Bahkan namaku tidak akan ada lagi," tuturnya.

Dr Li-Meng Yan pun mengklaim bahwa itu adalah tanggung jawabnya untuk memberikan informasi seputar virus corona Covid-19 sebelum menghilang.

Dr Li-Meng Yan mengatakan bahwa ia telah dibesarkan dan dididik di bawah rezim Partai Komunis dan tahu hal-hal yang akan dilakukan pemerintah China. Tetapi, Dr Ling tidak berani mengungkapnya di depan publik.

Ahli virologi berjanji bahwa dia akan terus mengatakan yang sebenarnya tentang rezim Bejing dan pandemi virus corona Covid-19.

Harapannya, informasi yang disampaikan bisa mempercepat pemahaman dunia luar tentang rezim dan membantu orang-orang China untuk menggulingkannya.

Sebelum mengungkap hal itu, Dr Li-Meng Yan melarikan diri ke Amerika pada bulan April 2020 dari Hong Kong, karena khawatir akan keselamatannya.

Dr Li-Meng Yan memilih untuk melarikan diri, setelah tahu cara otoritas China memperlakukan pelapor untuk menyembunyikan epidemi. Dr Li-Meng Yan menekankan bahwa pelarian itu bertujuan untuk menyampaikan pesan kebenaran mengenai Covid-19 kepada publik.

Dr Li-Meng Yan mengatakan bahwa dirinya salah satu ilmuwan pertama di dunia yang mempelajari virus corona di Wuhan. Ia diminta oleh atasannya di laboratorium rujukan Universitas/WHO, Dr. Leo Poon untuk melihat virus aneh yang mirip SARS terjadi di Wuhan pada akhir Desember 2019.

Ahli virologi itu mengatakan bahwa pemerintah China menolak untuk membiarkan para ahli di luar negeri, termasuk yang di Hong Kong melakukan penelitian di China.

"Jadi aku mencari tahu dari teman-temanku untuk mendapatkan informasi lebih lanjut," tuturnya.

Ilustrasi Tes Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi Tes Covid-19. (Shutterstock)

Setelah mempresentasikan temuannya, Dr Li-Meng Yan mengklaim bahwa atasannya menyarankannya untuk melanjutkan penyelidikan, tetapi ia disarankan tetap diam dan hati-hati.

Menanggapi klaim tersebut, juru bicara Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong mengatakan bahwa Dr Li-Meng Yan saat ini bukan karyawan.

"Dr Li-Meng Yan tidak lagi menjadi anggota staf Universitas. Karena, menghormati karyawan kami yang sekarang sudah tidak bekerja di sini. Jadi, kami tidak bisa mengungkapkan informasi pribadi tentang dia," jelas juru bicara Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong.

Terkait

Terkini