cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 22 September 2020

Kenali Sindrom Charles Bonnet, Penderitanya Dihantui Halusinasi Visual

Sindrim Charles Bonnet (CBS) merupakan kondisi yang menyebabkan halusinasi visual yang terasa nyata dan memiliki kompleksitas.

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
cloud_download Baca offline
Ilustrasi CBS - (Pixabay/geralt)
Ilustrasi CBS - (Pixabay/geralt)

Himedik.com - Para penderita Sindrom Charles Bonnet bisa melihat hal-hal yang menyeramkan dan mustahil. Misalnya, Arthur Anston yang sempat berpikir bahwa ia mungkin sudah tidak waras ketika melihat para bangsawan di era Victorian berpenampilan modern.

Pensiuan dikrektur penjualan berumur 71 tahun itu juga pernah merasa ketakutan ketika melihat seseorang tiba-tiba muncul dihadapannya saat ia bepergian bersama istrinya meski ia tahu itu sebuah halusinasi.

"Pertama kali hal itu terjadi, saya pikir saya sudah tak waras," katanya kepada Independent.

Saking takutnya, ia dibawa oleh menantu laki-lakinya ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Menurut dokter, ia menderita Sindrom Charles Bonnet (CBS).

"Saya belum pernah mendengar tentang CBS. Apa yang saya tahu hanyalah saya melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Itu mengganggu," kata Anston.

Saat menderita CBS, seseorang bisa merasa dihantui oleh penampakan seram, seperti anak yang berlumuran darah, peristiwa horor, binatang buas, hingga sosok yang mengerikan. CBS ini merupakan kondisi yang menyebabkan halusinasi visual yang terasa nyata dan memiliki kompleksitas.

Melansir dari Independent, para ahli saraf dari Oxford sedang menyusun studi untuk menyelidiki penyebab CBS sehingga bisa mencari pengobatan yang tepat. Peneliti memperkirakan bahwa kemungkinan banyak orang yang menderita masalah ini namun tidak terbuka karena takut dianggap gila.

"Ini sangat penting karena memengaruhi kehidupan banyak orang," kata Judith Potts, pendiri Esme’s Umberella yang merupakan yayasan untuk orang dengan CBS.

Ilustrasi halusinasi. [Shutterstock]
Ilustrasi halusinasi. [Shutterstock]

Potts juga mengalami CBS, ia mengaku sering kali mendengar suara seolah ia berada dalam film horor.

"Orang-orang tahu itu tidak nyata, tetapi mereka tidak dapat menghilangkan bayangannya, tidak ada obatnya. Mereka tidak bisa melarikan diri," tambahnya.

Menurut Potts, CBS sendiri telah memengaruhi kehidupan banyak orang. Para penderita yang ia temui bahkan mengaku melihat harimau di depan pintu kamarnya saat bangun. "Jika Anda melihatnya, itu terasa sangat menakutkan, meskipun Anda tahu itu tidak nyata," kata Potts.

Orang-orang dengan CBS tahu dan paham bahwa yang ia lihat hanyalah sesuatu yang tidak nyata. Sayangnya, mereka tidak bisa menghilangkan bayangan-bayangan tersebut. Kondisi ini juga terjadi pada orang-orang dengan kondisi mental yang sehat.

Dengan kondisi ini, orang-orang sering kali tak mau keluar rumah karena takut mengalami penglihatan serupa di luar. "Mereka menjadi depresi, bahkan bisa mengalami kecelakaan," imbuh Potts.

Penyebab persis dari CBS sendiri tidak diketahui dengan pasti. Namun menurut Institus Kesehatan Nasional (NIH), CBS bisa terjadi ketika seseorang mengalami penurunan atau kehilangan penglihat.

CBS diperkirakan terkait dengan otak yang terus menafsirkan gambar, bahkan saat gambar tidak ada. Ada banyak penyakit yang mendasari kehilangan penglihatan yang berhubungan dengan CBS, seperti degenerasi makula dan stroke. Halusinasi dapat hilang jika masalah penglihatan yang mendasarinya dapat diperbaiki, seperti halnya katarak.

Penelitian Oxford yang akan dilakukan pada musim panas ini dibiayai oleh yayasan Esme’s Umbrella dan the Fight For Sight. Studi ini akan mengamati sekitar 20 orang, 10 dengan CBS dan 10 tanpa CBS. Para peneliti akan mengukur bahan kimia di otak dan dipantau selama periode waktu tertentu.

Ilustrasi depresi
Ilustrasi CBS

"Dengan melihat itu, kami dapat melihat apakah mungkin ada ketidakseimbangan kimiawi dalam sistem penglihatan yang menjadi penyebab dari penglihatan yang sangat aneh ini," kata Holly Bridge, seorang profesor ilmu saraf yang memimpin penelitian.

"Jika kita dapat menetapkannya, maka hal itu dapat menjadi kemungkinan mengarah pada pengobatan untuk mengubah keseimbangan kimiawi," tambahnya. Hasil awal penelitian akan diterbitkan dalam 12 bulan dan diterbitkan sepenuhnya dalam waktu 18 bulan. Tetapi, pengobatan penelitian tentang pengobatan masih bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Terkait

Terkini