cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Sabtu, 26 September 2020

Ingat, Sering Menahan Buang Air Besar Berisiko Sebabkan Masalah Kesehatan!

Salah satunya adalah tidak bisa mengendalikan buang air besar.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
ilustrasi sakit perut (shutterstock)
ilustrasi sakit perut (shutterstock)

Himedik.com - Beberapa orang lebih memilih menahan buang air besar (BAB) ketika berada di tempat umum. Menahan BAB sesekali memang tidak berbahaya, tetapi jika terlalu sering dilakukan maka akan menyebabkan sembelit.

Saat ini terjadi, usus bagian bawah menyerap air dari tinja yang menumpuk di rektum. Ketika feses mengandung sedikit air, akan lebih sulit dikeluarkan karena menjadi keras.

Dalam situasi yang lebih parah, perilaku ini dapat menyebabkan masalah yang parah, seperti impaksi feses (ketika feses yang keras dan kering tersangkut di usus besar atau rektum) atau perforasi gastrointestinal (lubang di dinding saluran cerna).

Menahan kotoran juga dapat menyebabkan distensi, atau peregangan, pada rektum. Jika orang tersebut kehilangan sensasi di dalam rektum, yang disebut hiposensitivitas rektal, mereka mungkin mengalami inkontinensia.

Ilustrasi sulit buang air besar. [Shutterstock]
Ilustrasi sulit buang air besar. [Shutterstock]

Inkonteninsia tinja atau inkontinensia fekal merupakan gejala yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengendalikan buang air besar. Kondisi ini tinja dapat keluar secara tidak terduga.

Sebuah penelitian 2015 menunjukkan peningkatan beban tinja di usus besar dapat meningkatkan jumlah bakteri dan membuat peradangan usus besar jangka panjang. Peradangan ini dapat meningkatkan risiko terkena kanker usus besar.

Temuan penelitian juga menunjukkan hubungan antara menahan kotoran, usus buntu dan wasir .

Berapa lama seseorang bisa tidak BAB?

Jadwal buang air besar orang berbeda. Beberapa orang buang air besar sekali setiap 2 hari, sedangkan yang lain buang air besar beberapa kali sehari.

Frekuensi buang air besar bergantung pada usia dan pola makan mereka, tetapi kebanyakan orang akan buang air besar antara satu hingga tiga kali sehari.

Orang harus BAB ketika tubuh mereka menunjukkan gejalanya. Jika waktunya tidak tepat, maka mereka harus mencobanya sesegera mungkin.

Ada laporan kasus ekstrim dimana menahan tinja karena sembelit telah mengakibatkan komplikasi parah.

Dalam satu contoh, seorang wanita muda dari Inggris meninggal setelah 8 minggu tidak BAB. Kotoran menyebabkan ususnya membesar sehingga menekan organ tubuhnya dan menyebabkan serangan jantung.

Dalam contoh lain yang ditampilkan dalam Laporan Kasus BMJ, seorang pria mengalami kelumpuhan di satu kaki dan sindrom kompartemen perut (kondisi yang berpotensi mengancam jiwa akibat peningkatan tekanan di perut) karena sembelit parah.

Terkait

Terkini