cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Minggu, 27 September 2020

Anosmia Jadi Gejala Umum Covid-19, Bisakah Indra Penciuman Kembali Normal?

Orang yang kehilangan indra penciuman sering kali melaporkan merasa terisolasi dan tertekan serta kehilangan kenikmatan dalam keintiman

Yasinta Rahmawati
cloud_download Baca offline
Ilustrasi hidung - (Shutterstock)
Ilustrasi hidung - (Shutterstock)

Himedik.com - Anosmia atau hilangnya kemampuan untuk mencium bau masuk sebagai daftar sebagai gejala umum Covid-19. Meskipun tidak bisa mencium mungkin terdengar seperti efek samping remeh, dampaknya bisa menghancurkan bagi seseorang.

Indra penciuman terikat dalam upaya kita untuk mempertahankan diri dan menangkap rasa yang kompleks dan menikmati makanan. Bau bahkan berperan dalam kehidupan emosional kita, menghubungkan kita dengan orang yang kita cintai dan kenangan.

Orang yang kehilangan indra penciuman sering kali melaporkan merasa terisolasi dan tertekan serta kehilangan kenikmatan dalam keintiman.

Dikutip dari Science Alert, dampak emosional hilangnya penciuman pada pasien sangat besar. Sebuah penelitian pada Juni lalau di Inggris mengungkap tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi di antara populasi anosmic.

Lalu, dapatkah indra penciuman yang hilang akibat Covid-19 dapat kembali?

Kabar baiknya, bagi sebagian besar pasien Covid-19 yang menderita anosmia, indra penciuman kembali dalam beberapa minggu. Dokter sendiri belum tahu apakah virus menyebabkan hilangnya bau dalam jangka panjang.

Ilustrasi indera penciuman. (Pixabay)
Ilustrasi indera penciuman. (Pixabay)

Menurut sebuah penelitian dari Italia yang diterbitkan awal bulan ini , 49 persen pasien telah sepenuhnya mendapatkan kembali indra penciuman atau perasa mereka dan 40 persen melaporkan peningkatan.

Sedangkan 10 persen lainnya mengalami kehilangan bau terus-menerus yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Sementara pemahaman tentang Covid-19 masih berkembang, para peneliti mulai memahami apa yang menyebabkan anosmia pada pasien virus corona sejak awal.

Dalam sebuah artikel di The Conversation, Dr. Jane Parker, seorang profesor kimia rasa di University of Reading, dan Dr. Simon Gane, seorang ahli rinologi di Universitas London menjelaskan bahwa orang yang pulih lebih cepat dari anosmia kemungkinan besar mengalami peradangan di tingkat lokal, atau dikenal sebagai "sindrom sumbing".

Sindrom sumbing ini merupakan kondisi di mana celah penciuman (bagian di hidung yang mendeteksi bau), terhalang oleh jaringan yang membengkak dan lendir. Oleh karena itu, menghalangi aroma apa pun untuk mencapainya.

Namun, kondisi ini bisa membaik dalam beberapa minggu, dan begitu pembengkakan pasien turun, jalur ke neuron penciuman mereka terbuka lagi.

Di sisi lain, orang yang memiliki masalah penciuman jangka panjang kemungkinan besar mengalami peradangan agresif yang dapat menyebabkan kerusakan saraf atau jaringan.

Namun, seperti banyak saraf lainnya, hal ini dapat dipulihkan dengan pelatihan penciuman. "Ini (pelatihan) sangat efektif. Anda dapat melakukan hal-hal menakjubkan dengan indra penciuman Anda, apakah Anda orang yang sehat atau orang yang sedang memulihkan diri," kata Chrissi Kelly, pendiri AbScent, sebuah badan amal Inggris yang membantu orang-orang yang menderita kehilangan bau.

Uji klinis pun telah menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan pelatihan lebih baik dalam mengidentifikasi dan membedakan antara bau, dibandingkan orang yang tidak menjalani pelatihan.

"Bagi banyak orang yang kehilangan indra penciuman, mereka tidak lagi ingin tahu tentang penciuman. Anda harus tetap penasaran tentang penciuman dan terus mencari penciuman dalam kehidupan Anda sehari-hari dan itu sangat penting," kata Kelly.

Terkait

Terkini