cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Minggu, 27 September 2020

Peneliti Colorado: Asma Tidak Memperparah Kondisi Covid-19

Berbeda dengan anggapan CDC US yang mengatakan asma dapat memperparah infeksi virus corona.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi sakit asma. (Shutterstock)
Ilustrasi sakit asma. (Shutterstock)

Himedik.com - Beberapa pakar menduga asma akan memperparah Covid-19 jika penderitanya terinfeksi virus corona.

Bahkan, dalam pedoman baru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pun tertulis bahwa penderita asma dapat mengalami Covid-19 parah apabila terinfeksi virus corona. Namun, sebuah penelitian baru menunjukkan hasil sebaliknya.

Dilansir dari Medical News Today, dalam tinjauan studi oleh University of Colorado di Denver, mereka tidak menemukan bukti peningkatan prevalensi asma di antara pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, dibandingkan dengan prevalensi di masyarakat.

Selain itu, peneliti mengatakan penderita asma yang dirawat karena Covid-19 tidak lebih mungkin untuk diintubasi daripada pasien lain.

Intubasi merupakan prosedur medis yang memasukkan tabung sebagai alat bantu pernapasan ke dalam tenggorokan.

Steroid inhaler (Freepik)
Steroid inhaler bagi penderita asma (Freepik)

"CDC menempatkan penderita asma pada risiko tinggi terkena Covid-19 dan dirawat di rumah sakit. Namun, banyak penelitian internasioal menunjukkan jumlah (penderita asma) rendah di antara pasien Covid-19. Temuan ini menantang asumsi tentang asma sebagai faktor risiko (Covid-19 parah)," kata penulis studi Dr. Fernando Holguin.

Dalam surat penelitian yang terbit di Annals of the American Thoracic Society, penulis mencatat bahwa meski ada kekhawatiran tentang morbiditas (penyakit penyerta) dan mortalitas (jumlah kematian) yang sangat tinggi untuk penderita asma, data yang tersaji di studi tersebut dan di penelitian yang lain menunjukkan bukti yang sedikit.

"Data yang disajikan di sini dan di tempat lain menunjukkan bukti minimal dari hubungan yang signifikan secara klinis," sambung peneliti.

Terkait

Terkini