cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 22 September 2020

Akibat Ereksi 2 Hari, Penis Pria Ini Terancam Tidak Bisa Berfungsi Lagi!

Penis seorang pria terancam tidak berfungsi lagi setelah mengalami ereksi selama 2 hari.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi masalah Mr P - (Shutetrstock)
Ilustrasi masalah Mr P - (Shutetrstock)

Himedik.com - Elliot Rossiter, seorang pria asal Inggris mesti melakukan operasi di bagian penisnya setelah mengalami ereksi selama 36 jam atau dua hari. Ereksi berkepanjangan itu membuat Elliot merasakan kesakitan hingga sulit berjalan.

Awalnya, Elliot sedang mengunjungi teman-temannya di Perancis. Di tengah perkumpulan, Elliot mendadak mengalami ereksi. Padahal, ia tidak sedang terangsang atau merasakan hasrat seksual apapun.

"Ketika itu kami semua hanya sedang duduk dan ereksi terjadi begitu saja. Saya sudah mencobanya untuk menghentikan tetapi tidak bisa. Padahal saya sama sekali tidak terangsang secara seksual," kata Elliot, dikutip dari Fox News.

Setelah 19 jam ereksi, teman-temannya langsung membawa Elliot ke klinik setempat. Saat itu, penisnya cuma disuntik dengan obat antiinflamasi dan steroid. Namun, suntikkan tersebut tidak membuat ereksinya berhenti.

"Akibat ereksi itu, saya hampir tidak bisa berjalan dan rasanya sangat sakit. Bagiku, itu adalah sebuah penderitaan," ujar dia.

Ilustrasi pria ereksi (shutterstock)
Ilustrasi pria ereksi (shutterstock)

Elliot mengaku ketakutan dan mengira bahwa ereksinya tak akan pernah berhenti. Apalagi ia merasa ereksinya sangat besar dari biasanya dan seolah tidak pernah berhenti berdenyut.

"Saya kesulitan memakai pakaian apapun yang bisa menyentuh penis, karena itu saja akan terasa menyakitkan," ujarnya.

Akhirnya, Elliot kembali dilarikan ke rumah sakit setempat karena ereksinya tak kunjung hilang setelah 2 hari. Dokter kemudian mendiagnosis Elliot mengalami priapism, yakni ereksi yang terjadi berkepanjangan.

"Dokter mengatakan saya mengalami priapism. Lalu mereka mengatakan bahwa penisnya tidak akan berfungsi lagi jika tidak segera dioperasi untuk mengeluarkan darahnya," kata Elliot.

Ilustrasi selangkangan, penis. (Shutterstock)
Ilustrasi selangkangan, penis. (Shutterstock)

Akhirnya, dokter memotong lubang lecil di pangkal penis Elliot untuk mengalirkan darahnya. Beruntungnya, operasi berjalan lancar meski meninggalkan bekas luka kecil di penisnya.

Menurut Mayo Clinic, kondisi ini seringkali tidak berhubungan dengan seks atau gairah. Oleh karena itu, Elliot membutuhkan pembedahan untuk mengatasinya. Jika tidak diobati, jaringan penis akan rusak parah dan hancur.

Dalam kasus ini, penyebab priapism Elliot tidak diketahui jelas. Namun, Elliot jelas mengaku tidak mau merasakannya lagi.

Terkait

Terkini