cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Sabtu, 19 September 2020

Pernah Jadi Kontroversi, Begini Metode 'Cuci Otak' dr Terawan

Metode yang dilakukan dr Terawan yaitu mengombinasikan Digital Substraction Angiography (DSA) dan injeksi heparin untuk mengobati pasien stroke.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. [Suara.com/Ummi Hadyah Saleh]
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. [Suara.com/Ummi Hadyah Saleh]

Himedik.com - Pada Rabu (23/10/2019) Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan Mayjen TNI Dr dr Terawan Agus Putranto, Sp. Rad(K) sebagai Menteri Kesehatan periode 2019-2024.

Pada 2018 lalu, Menkes baru ini mengaplikasikan metode 'cuci otak' untuk mengobati stroke di kalangan pejabat dan politisi. Sayangnya, metode ini cukup memicu kontroversi dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang metode pengobatannya.

Metode yang dilakukan dr Terawan yaitu mengombinasikan Digital Substraction Angiography (DSA) dan injeksi heparin. Sedangkan ia sendiri mempromosikan metode ini sebagai 'cuci otak', yang juga dikenal sebagai pembilasan otak intra-arterial.

Melansir Straitstimes.com, DSA dan heparin digunakan dalam perawatan medis konvensional pasien stroke.

DSA adalah teknik pencitraan X-ray untuk memvisualisasikan pembuluh darah. Sementara heparin digunakan sebagai anti-koagulan (pengencer darah), untuk mencegah pembekuan darah sebelum operasi serta untuk mengobati pembekuan darah.

Heparin diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah pasien.

Menteri Kesehatan Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K), usai melakukan perpisahan di RSPAD Gatot Subroto, Rabu (23/10/2019). (Suara.com/Dini Afrianti)
Menteri Kesehatan Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K), usai melakukan perpisahan di RSPAD Gatot Subroto, Rabu (23/10/2019). (Suara.com/Dini Afrianti)

Karena stroke biasanya disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah karena penumpukan plak di dinding bagian dalam pembuluh, dr Terawan menggunakan heparin untuk membersihkan plak dengan menyuntikkan antikoagulan ke paha pasien.

Namun, diduga belum ada bukti ilmiah yang ada saat ini untuk mendukung efektivitas heparin dalam pengobatan stroke.

Tetapi, melansir strokecenter.org, heparin terkadang digunakan pada pasien stroke untuk mengurangi risiko pembentukan gumpalan darah di pembuluh darah kaki.

Selain itu, pengencer darah ini juga terkadang digunakan untuk mengurangi kerusakan akut atau risiko stroke pada pasien.

Sebenarnya, metode ini sudah digunakan oleh dr Terawan sejak 2004.

Ia mengatakan, metode ini sudah diaplikasikan pada setidaknya 40.000 pasien dan biaya perawatannya membutuhkan sekitar Rp30 juta.

Terkait

Terkini