Kamis, 20 Februari 2020

Puger Mulyono, Pendobrak Stigma Masyarakat tentang Anak dengan HIV/AIDS

Puger selalu menyisihkan penghasilannya untuk membiayai kehidupannya dan anak-anak ADHA.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Puger Waluyo, Bidan Ajeng Sulistyaningrum dan Nurul Jannati dari DTK Indonesia (Rosiana/Himedik)
Puger Waluyo, Bidan Ajeng Sulistyaningrum dan Nurul Jannati dari DTK Indonesia (Rosiana/Himedik)

Himedik.com - Puger Mulyono, seorang lelaki yang berprofesi sebagai juru parkir asal Solo terketuk hatinya untuk mendirikan Yayasan Lentera. Fokus yayasan ini adalah untuk merawat Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA) sejak 2012 silam.

Puger selalu menyisihkan penghasilannya untuk membiayai kehidupannya dan anak-anak ADHA. Selain itu, lelaki ini juga berjuang agar anak-anak asuhnya mendapat pendidikan yang layak seperti pada umumnya.

"Sampai saat ini ada 32 anak yang ada di yayasan. Semua HIV/AIDS, tapi sekarang kondisi mereka membaik," tutur Puger, saat menjadi pemeroleh penghargaan local hero oleh DKT Indonesia di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Minggu (1/12/2019).

Puger mengaku ada anak yang fase AIDS-nya kembali ke fase HIV lagi. Namun, ada sebanyak 12 anak yang tidak bertahan dari penyakitnya hingga meninggal dunia serta 6 anak yang sudah kembali ke keluarga mereka untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Puger mengatakan, anak-anak yang datang ke yayasannya selalu sudah menderita AIDS, yang diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap darah sang anak dari rumah sakit.

Puger Waluyo, Bidan Ajeng Sulistyaningrum dan Nurul Jannati dari DTK Indonesia (Rosiana/Himedik)
Puger Waluyo, Bidan Ajeng Sulistyaningrum dan Nurul Jannati dari DTK Indonesia (Rosiana/Himedik)

"Setiap dirujuk ada lampiran (pemeriksaan) darah dari laboratorium, HIV stadium sekian, obatnya ini, ada semua," lanjutnya. Usia tertua yang berada di yayasan adalah usia remaja, yaitu 13 tahun. Sedangkan terkecil masih balita.

Tidak hanya mementingkan pendidikan saja, Yayasan Lentera juga bekerja sama dengan RSUD Dr. Moewardi  Surakarta dalam pemeriksaan kesehatan anak-anak di selter.

"Pengobatannya ada secara medis, herbal, tradisional dan spiritual. Pengobatannya gratis, dulu 3 tahun pertama kita bayar, sekarang pemerintah ikut andil kan. BPJS ada, KIS ada, kalau enggak punya pake surat sakti dari Dinas Sosial Kota Surakarta," sambungnya.

Setiap bulannya, yayasan akan mengambil obat antiretroviral (ARV) di rumah sakit. Obat ini berfungsi untuk menekan virus agar tidak semakin berkembang.

"Kita nanti ambil di rumah sakit setiap bulan untuk penekanan obat untuk virusnya, namanya ARV. Jenisnya macem-macem, namun itu tergabung dalam antiretroviral. Nanti kita dukung dengan suplemen," jelasnya.

Tidak hanya bantuan pengobatan, pemerintah Surakarta dan Kementerian Sosial juga kerap memberi bantuan berupa makanan serta tempat tinggal untuk anak-anak.

Terkait

Terkini