Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Senin, 06 Juli 2020

Ketidakseimbangan Hormon Dapat Dialami Oleh Pria, Apa Penyebabnya?

Kondisi tersebut bisa memengaruhi hormon testosteron, kortisol, dan tiroid dalam tubuh pria.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Pria dapat mengalami ketidakseimbangan hormon (Unplash/Siavash Ghanbari)
Pria dapat mengalami ketidakseimbangan hormon (Unplash/Siavash Ghanbari)

Himedik.com - Ketika kadar hormon dalam aliran darah terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka akan terjadi ketidakseimbangan hormon.

Karena perannya yang sangat penting, apabila hormon tidak seimbang sedikit pun, hal itu dapat menyebabkan efek samping di seluruh tubuh.

Tidak hanya perempuan, ketidakseimbangan hormon ternyata juga dapat dialami laki-laki. Kondisi tersebut bisa memengaruhi hormon testosteron, kortisol, dan tiroid dalam tubuh pria.

Ketidakseimbangan hormon pada pria cukup berbeda dari perempuan. Hal itu karena mereka memiliki organ dan siklus endokrin yang berbeda pula. Ini terjadi ketika kadar testosteron dan kadar hormon pertumbuhan menurun.

Berdasarkan Nu Male Medical, rerata hormon pertumbuhan pada pria akan turun sebanyak 14% per dekade setelah usia 20 tahun.

Ilustrasi pasangan suami istri konsultasi ke dokter. (Shutterstock)
Ilustrasi laki-laki konsultasi ke dokter (Shutterstock)

Lalu, pada usia 40 tahun, rata-rata pria hanya mempertahankan setengah dari hormon pertumbuhan yang dimilikinya sejak usia 20 tahun.

Selanjutnya hingga pada usia 80 tahun, pria hanya akan memiliki 5% hormon pertumbuhan asli mereka.

Menurut Medical News Today, penyebab alami kondisi ini bisa karena pubertas atau penuaan.

Sedangkan faktor di luar usia yang rawan mengalami masalah ini adalah pola makan, tingkat aktivitas, tekanan, cedera, genetik, dan obat-obatan yang dikonsumsi.

Selain itu, gejala ketidakseimbangan hormon pria cenderung muncul secara bertahap. Ironisnya, gejala yang muncul sering diabaikan atau bahkan salah didiagnosis.

Terkait

Terkini