cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Minggu, 20 September 2020

Makan Junk Food selama 2 Minggu, Pria Ini Merasa Ususnya akan Pecah!

Marc mengambil tantangan untuk mengonsumsi junk food selama 2 minggu.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Ilustrasi junk food. (Pixabay/RitaE)
Ilustrasi junk food. (Pixabay/RitaE)

Himedik.com - Tantangan makan junk food dua kali sehari selama 2 minggu telah membuat seorang mahasiswa merasa usus di dalam perutnya akan pecah atau meledak.

Marc Cox, seorang mahasiswa yang tinggal di Corsby ini berusaha mengambil tantangan untuk mengonsumsi junk food selama 2 minggu. Ia mencobanya bersama sekelompok anak usia 18 sampai 25 tahun.

Marc melakukan ini sebagai bagian dalam BBC One Documentary untuk melihat dampak makanan cepat saji pada orang dewasa seiring berjalannya waktu.

Mahasiswa yang mengalami jurusan psikolog ini mengaku harus mengonsumsi makanan cepat saji sebanyak 2 kali dalam sehari, yakni makan siang dan malam.

Marc pun sempat menjalani pemeriksaan medis sebelum sampai sesudah menjalani tantangan konsumsi makanan cepat saji selama 2 minggu.

Pemeriksaan medis itu memerhatikan kadar gula darah, persentase lemak tubuh, bakteri usus, kondisi mental hingga ketajaman kognitifnya sebelum dan sesudah mengonsumsi makanan cepat saji.

Ilustrasi junk food. (shutterstock)
Ilustrasi junk food. (shutterstock)

Marc mengaku kondisinya baik-baik saja ssaat awal menjalani eksperimen. Tetapi, kondisinya mendadak berubah setelah beberapa hari menjalaninya.

"Awalnya baik-baik saja. Kemudian hari kelima, saya merasa sangat lesu dan lelah," kata Marc dikutip dari Mirror.

Ia mengaku harus mengonsumsi junk food, seperti kebab atau burger di malam hari dan siang hari. Bahkan ia sempat berpikir akan jatuh sakit akibat pola makannya.

Sampai akhirnya di hari ke-10, Marc mulai tidak bertenaga untuk bangun dari tempat tidur karena merasa berat dan penuh. Ia masih berusaha masuk kelas, tetapi ia juga selalu tertidur selama pelajaran.

"Saya masih pergi ke universita, tetapi saya tertidur selama kuliah dan tidak mendengarkan materi dengan benar. Aku hampir menyerah dengan percobaan ini karena perutku terasa seperti akan meledak," jelasnya.

Selain perutnya, Marc juga merasa makanan cepat saji telah menyebabkan masalah kulit. Kulit wajahnya terdapat bercak-bercak berminyak yang diyakini akibat pola makannya.

Sehingga Marc memutuskan pergi facial untuk perawatan kulit wajahnya. Ia merasa efek konsumsi junk food pada kulit dan tubhnya hanya dalam rentang waktu beberapa minggu.

Pada akhir percobaan, peserta pun melakukan tes kesehatan lagi. Saat itu kadar gula darah Marc terbukti tinggi dan makanan ini telah memengaruhi kesehatan mentalnya.

"Pada akhir percobaan itu, kami harus melakukan tes lagi dan saya hanya mengalami kenaikan berat badan sedikit. Tetapi, kondisi saya tidak baik secara mental dan gula darah tinggi," tuturnya.

Terkait

Terkini