cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Kamis, 16 Juli 2020

Seperti Perokok, Pengguna Vape Juga Berisiko Tinggi Terkena Corona Covid-19

Rokok dan vape sama-sama merusak paru-paru.

Yasinta Rahmawati
cloud_download Baca offline
Ilustrasi asap rokok. (Pixabay/Macedo_Media)
Ilustrasi asap rokok. (Pixabay/Macedo_Media)

Himedik.com - Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian di China mengungkap bahwa banyak dari pasien positif Covid-19 di negaranya adalah perokok. Sehingga perokok masuk daftar orang yang berisiko tinggi tertular virus mematikan tersebut.

Bagaimana dengan vape? Banyak pakar dan ahli yang menyebutkan tak ada bedanya dengan perokok, vape juga berisiko tinggi.

Hal ini disebabkan karena keduanya sama-sama merusak paru-paru dan membuatnya sulit untuk melawan Covid-19.

Dikutip dari Healthline, Dr Albert Rizzo, kepala medis dari American Lung Association menulis di dalam situs organisasinya bahwa vaping atau merokok dapat melemahkan kemampuan seseorang untuk pulih dari virus corona.

Vape, Salah Satu Produk Tembakau Alternatif. (Shutterstock)
Vape, Salah Satu Produk Tembakau Alternatif. (Shutterstock)

"Yang kami tahu pasti adalah merokok dan vaping menyebabkan kerusakan pada paru-paru, mengakibatkan jaringan paru terinflamasi, rapuh, dan rentan terhadap infeksi," katanya.

Ada banyak kekhawatiran mengenai masalah kesehatan jangka panjang yang disebabkan oleh vaping, tapi karena prakteknya sendiri belum lama muncul untuk memberikan bukti jangka panjang.

Sama halnya seperti Covid-19 yang baru pada bulan Desember muncul di Wuhan, China. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi dari virus corona yang bernama SARS-CoV-2.

Maka dari itu hal ini menjadikan efek dari vaping dan merokok dengan Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti.

"Hingga kini belum ada bukti. Walau begitu, hal ini sangat sulit untuk dilacak karena masih belum memiliki kode ICD-10 (versi terbaru dari International Statistical Classification of Diseases) untuk menunjukkan pasien mana yang melakukan vape dan mana yang tidak," kata Dr Laura Crotty Alexander, profesor kedokteran di Divisi ulmonary Critical Care and Sleep dari University of California San Diego.

Ia menambahkan, banyak juga tenaga medis yang tidak bertanya spesifik soal perilaku vaping pasien.

Dr Alexander mengatakan adanya data yang menunjukkan bahwa menghirup bahan kimia dasar yang aerosol vaping seperti propylene glycol dan gliserin membuat penggunanya memiliki peningkatan risiko terkena infeksi paru saat mengidap flu.

Terkait

Terkini